Kamis, 21 Juli 2016

Model-model Pembelajaran dan permasalahannya



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya visi pendidikan sains mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pemahaman tentang sains dan teknologi, melalui pengembangan keterampilan berpikir, sikap dan keterampilan dalam upaya untuk memahami dirinya sehingga dapat mengelola lingkungan, dapat mengatasi masalah dalam lingkungannya. Dalam jangka panjang visi pendidikan sains memberikan kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis; bersikap kreatif, tekun, disipilin, mengikuti aturan, dapat bekerja sama, bersikap terbuka, percaya diri, memiliki keterampilan kerja, keterampilan komunikasi dan keteram-pilan  sosial  lainnya yang merupakan kemampuan dasar bekerja ilmiah yang  secara  terus  menerus perlu dikembangkan untuk memberikan bekal siswa menghadapi tantangan dalam masyarakat yang semakin kompetitif.
Falsafah yang mendasari studi tentang kemampuan dasar bekerja ilmiah ini adalah hakekat sains yang berpandangan sains sebagai produk dan proses. Sebagai produk sains merupakan ilmu  pengetahuan  yang  terstruktur  yang diperoleh melalui proses aktif, dinamis dan eksploratif dari kegiatan  induktif (Carin, 1997). Selanjutnya pembelajaran sains didasarkan pada teori belajar konstruktivis yang berpandangan bahwa belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan yang dilakukan sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman yang dimiliki sebelumnya (Ramsey, 1993). Proses belajar dilakukan melalui tahap eksplorasi dari pengalaman yang dimilikinya melalui kegiatan ilmiah yang dimulai dengan observasi data primer dan atau sekunder  sampai  dengan kesimpulan yang menjadi pengetahuan baru. Belajar merupakan kegiatan mengaplikasikan pengetahuan baru pada masalah yang relevan yang  dilakukan secara induktif dan deduktif, yang merupakan  kegiatan  berpikir  dan  bertindak yang berkem-bang secara berkelanjutan. Hasil belajar menitik beratkan pada apa yang bisa dilakukan setelah seseorang belajar. Untuk menghadapi tantangan masa depan, pembelajaran sains perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar pengetahuan, belajar berbuat sesuatu, belajar menjadi dirinya sendiri dan belajar bekerja sama.
Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan membawa siswa belajar sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, pengajar harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Melakukan kegiatan sains dengan kemampuan dasar  bekerja ilmiah memberi pemahaman pengetahuan, berpikir dasar dan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan sikap kritis, logis, sistematis, disiplin, objektif,  terbuka  dan jujur, kooperatif, rasa ingin tahu, senang belajar sains. Di samping itu akan menumbuhkan keterampilan kerja mela-lui kegiatan yang relevan. Kemampuan, sikap dan keterampilan itu menumbuhkan “science disposition”, yaitu keinginan, kesadaran dan dedikasi terhadap sains yang diperlukan dalam abad teknologi ini.
Jenis – jenis model belajar cukup banyak, Penggunaan model pembelajaran juga dipengaruhi oleh filsafat pendidikan, misalnya model pembelajaran yang sesuai dengan filsafat konstruktivisme, model pembelajaran yang sesuai dengan filsafat progesivisme, dan lain-lain. Selain itu model pembelajaran juga bergantung dari pemakaian teknologi dalam pendidikan, misalnya penggunaan computer.
Model pembelajaran IPA menggambarkan bagaimana pembelajaran IPA dilakukan. Dewasa ini telah dikembangkan bermacam-macam model pembelajaran oleh para ahli. Di antara model-model pembelajaran tersebut ada yang dirancang secara umum tetapi cocok digunakan untuk pembelajaran IPA, namun ada yang memang dirancang khusus untuk pembelajaran IPA. Beberapa model tersebut akan diuraikan, agar dapat dipahami karakteristiknya masing-masing.
Beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam pembelajaran IPA antara lain pendekatan inkuiri, pendekatan keterampilan proses, pendekatan S-T-S (Science-Technology-Society), pendekatan konstruktivisme. Sedangkan beberapa metode yang sering digunakan antara lain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, dan eksperimen.
1.2. Topik Bahasan
Adapun topik bahasan pada makalah ini adalah :
1.2.1.      Pengertian Model Pembelajaran
1.2.2.      Model pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, Inquiry, Discovery, Cycle, dan Model pembelajaran Kooperatif dalam IPA
1.2.3.      Permasalahan dalam Penerapan Model Pembelajaran
1.2.4.      Solusi Permasalahan dari Sisi Penulis

1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.3.1.      Menjelaskan pengertian model pembelajaran
1.3.2.      Menjelaskan Model pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, Inquiry, Discovery, Cycle, dan Model pembelajaran Kooperatif dalam IPA
1.3.3.      Menjelaskan Permasalahan dalam Penerapan Model Pembelajaran
1.2.5.      Menjelaskan Solusi Permasalahan dari Sisi Penulis

















BAB II
ISI
2.1.   Pengertian Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal istilah model pembelajaran. Joyce & Weil (2009)  mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran dikelas atau pembelajaran tutorial untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.  dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.
Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki lima unsur dasar Joyce & Weil (2009), yaitu (1) syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, (3) principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, (4) support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan 5 yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects).
                                        
Gambar 1. Posisi Hierarkis Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Joyce & Weil (2009) dikelompokan kedalam empat rumpun, yaitu model interaksi sosial, model pemrosesan informasi, model personal, dan model perilaku. 

2.2. Model-model Pembelajaran IPA
a.      Model Pembelajan Problem Based Learning
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Basaed Learning) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dan bermakna bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis dengan menggunakan metode ilmiah sehingga siswa dapat membangun pengetahuan baru. Arends (2013:100) menyatakan bahwa inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah penyajian suatu permasalahan yang autentik dan bermakna pada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Sedangkan menurut Wina (2006:214), strategi pembelajaran berbasis masalah diartikan sebagai pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. PBL juga diartikan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur (ill-structured) dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan membangun pengetahuan baru.
Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menampilkan masalah, bertanya, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog (Arends, 2013). Guru juga berperan penting dalam memberi kerangka pendukung pada siswa untuk berinkuiri dan pertumbuhan intelektual. PBL tidak akan terjadi, kecuali guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang didalamnya terjadi pertukaran gagasan dengan terbuka dan jujur.
Prinsip-prinsip PBL adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Masalah nyata adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat apabila diselesaikan.
Pemilihan atau penentuan masalah nyata ini dapat dilakukan oleh guru maupun peserta didik yang disesuaikan kompetensi dasar tertentu. Masalah itu bersifat terbuka, yaitu masalah yang memiliki banyak jawaban atau strategi penyelesaian yang mendorong keingitahuan peserta didik untuk mengidentifikasi strategi-strategi dan solusi-solusi tersebut.
Sintaks PBL
Proses pembelajaran berbasis masalah dilakukan dalam tahapan-tahapan atau sintaks pembelajaran yang disajikan pada tabel berikut ini:
1.      Mengorientasikan peserta didik terhaap masalah
Pada permulaan pembelajaran berbasis masalah, sama dengan semua jenis pembelajaran, guru harus mengkomunikasikan secara jelas tujuan pembelajaran, membentuk sikap positif terhadap pembelajaran, dan menjabarkan apa yang diharapkan dilakukan siswa. Hal-hal yang perlu penjabaran adalah sebagai berikut:
Ø  Tujuan utama pembelajaran bukanlah untuk mempelajari banyak informasi baru melainkan menyelidiki masalah yang penting dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Ø  Masalah atau pertanyaan yang diselidiki tidak memiliki jawaban “benar” yang absolut, dan banyak masalah kompleks memiliki banyak solusi dan kadang bertentangan.
Ø  Selama tahap penyelidikan, siswa akan didorong untuk bertanya dan mencari informasi.
Ø  Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk mengungkapkan gagasan mereka secara terbuka dan bebas.
(Arends, 2013: 114-115)
2.      Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
Pembelajaran berbasis masalah menuntut guru mengembangkan keterampilan kolaborasi diantara siswa dan membantu mereka menyelidiki masalah bersama-sama. Pembelajaran tersebut juga mengharuskan membantu mereka merencanakan tugas penyelidikan dan pelaporannya.
3.      Membimbing penyilidikan individual maupun kelompok
Penyelidikan yang dilakukan secara mandiri, berkelompok, atau dalam tim kecil, merupakan inti dari PBL. Meskipun setiap situasi masalah membutuhkan sedikit teknik penyelidikan yang berbeda, kebanyakan proses dari pengumpulan dta dan eksperimen, hipotesis dan penjelasan, dan menyediakan solusi.
4.      Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk berbagi tugas dan merencanakn atau menyiapkan karya yang sesuai seabagai hasil pemecahan masalah dalam bentuk laporan, video, atau model.
5.      Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir dari pembelajaran berbasis masalah melibatkan kegiatan yang bertujuan membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses-proses pemikiran mereka dan juga keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama tahap ini,  guru meminta siswa mengkontruksi pemikiran mereka dan kegiatan selama berbagai tahap pembelajaran itu.
Implementasi PBL dalam pembelajaran
Tahap
Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Tahap 1
Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelaran dan sarana atau logistik yang dibutuhkan. Guru memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang dipilih atau ditentukan.
Tahap 2
Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Guru membantu peserta didik mendifinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang sudah diorientasikan pada tahap sebelumnya.
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong peserta peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu peserta didik untuk berbagi tugas dan merencanakan atau menyiapkan karya yang sesuai sebagai hasil pemecahan masalah dalam bentuk laporan, video, atau model
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang dilakukan.

Kelemahan
Di samping keunggulan, PBL juga memiliki kelemahan diantaranya:
a)      Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b)      Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk mempersiapkan.
c)      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

b.      Model pembelajaran Project Based Learning
Project based learning dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran berbasis proyek. Untuk membedakan dengan Problem based learning (PBL), Project based learningdisingkat dengan PjBL. Istilah PjBL (Project based learning) memang sering dipertukarbalikkan dengan Problem based learning (PBL). Seringkali keduanya juga sama-sama disingkat dengan PBL, sehingga makin rancu, meskipun sebenarnya di antara keduanya berbeda. Keduanya menekankan lingkungan belajar peserta didik aktif, kerja kelompok (kolaboratif), dan teknik evaluasi otentik (authentic assessment). Perbedaannya terletak pada perbedaan objek.
PjBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan suatu proyek
dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh peserta didik
dapat berupa proyek mandiri atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka
waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Proyek tersebut berfokus pada pemecahan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan peserta didik. Pembelajaran
berbasis proyek merupakan bagian dari model pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik student-centered).
Terdapat beberapa macam rancangan tahapan atau sintaks PjBL.
Tahapan PjBL yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational
Foundation (2005).
a.       Start With the Essential Question (Ajukan pertanyaan). Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
b.      Design a Plan for the Project(Rancang rencana proyek). Secara kolaboratif, guru dan peserta didik merencanakan aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin,
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.
c.       Create a Schedule (Susun jadual). Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek.
d.      Monitor the Students and the Progress of the Project (Pantau peserta didik dan kemajuan proyek). Guru bertanggungjawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama menyelesaikan proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.
e.       Assess the Outcome (Penilaian hasil). Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f.       Evaluation the Experience (Evaluasi pengalaman). Pada akhir proses pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu  maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry)
untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran.

c.       Model pembelajaran Inquiry
Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris, yaitu ‘to inquire’ yang berarti bertanya atau menyelidiki. Pertanyaan merupakan inti dari pembelajaran berbasisi inkuiri. Pertanyaan dapat menuntun untuk melakukan penyelidikan sebagai usaha peserta didik dalam memahami materi pelajaran. Ada beberapa penjelasan mengenai pembelajaran inkuiri telah dikemukakan oleh beberapa ahli.
Joyce dan Weil (2000) mengemukakan bahwa inti dari pembelajaran inkuiri adalah melibatkan peserta didik dalam masalah penyelidikan nyata dengan menghadapkan mereka dengan cara penyelidikan (investigasi), membantu mereka mengidentifikasi masalah konseptual atau metodologis dalam wilayah investigasi, dan meminta mereka merancang cara mengatasi masalah. Melalui inkuiri peserta didik belajar menjadi seorang ilmuwan dalam menyusun pengetahuan. Selain itu, peserta didik belajar menghargai ilmu dan mengetahui keterbatasan pengetahuan dan ketergantungan satu dengan yang lainnya.
Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund & Trowbridge, 1973) sebagai belajar mengajar yang mempersiapkan situasi bagi siswa untuk melaksanakan eksperimen. Dalam pengertian lebih luas, para siswa ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, melakukan sesuatu, menggunakan simbol, menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa, menghubungkan temuan-temuan, dan membandingkannya. Sementara itu Trowbridge (1990) memperkenalkan model inkuiri sebagai suatu proses pendefinisian dan penyelidikan masalah, formulasi hipotesis, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Lebih jauh ditambahkannya bahwa esensi dari pembelajaran inkuiri adalah untuk mengelola kondisi atau lingkungan belajar siswa dengan bimbingan yang cukup dalam menemukan prinsip dan konsep ilmiah.
Berdasarkan semua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu proses bagi siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan dan melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam pembelajaran berbasis inkuiri, siswa terlibat sacara mental dan secara fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Dengan kata lain para siswa akan menjadi terbiasa berperilaku sebagai saintis (objektif, jujur, kreatif, dan menghargai yang lain).
Llewellyn (Siti Zubaida dkk, 2013) mengelompokkan inkuiri berdasarkan tingkat dominasi peran guru atau peserta didik menjadi 4 tingkatan yaitu:
1           Inkuiri demonstrasi atau discrepant event, yaitu pembelajaran yang diawali dengan kegiatan demontrasi yang dilakukan guru untuk mengarahkan atau menarik perhatian peserta didik. Fenomena yang didemonstrasikan dirancang bertentangan dengan penalaran sehingga menimbulkan konflik kognitif pada peserta didik. Dengan demikian inkuiri demonstrasi dapat menimbulkan rasa penasaran sehingga dapat menimbulkan pertanyaan dari peserta didik.
2           Inkuiri terstruktur yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam aktivitas hands-on atau praktikum laboratorium, mengumpulkan dan mengorganisasi data, dan menarik kesimpulan. Pada pembelajaran ini langkah penyelidikan disiapkan guru atau berdasarkan LKS dan buku teks.
3           Inkuiri terbimbing yaitu pembelajaran yang diawali dengan pengajuan pertanyaan atau masalah yang akan diselidiki oleh guru dan menunjukkan materi atau bahan yang akan digunakan. Selanjutnya peserta didik merancang dan melaksanakan prosedur penyelidikan. Peserta didik kemudian menarik kesimpulan dan menyusun menjelasan dari data yang dikumpulkan
4           Inkuiri penuh (full inquiry) yaitu pembelajaran yang memberi kesempatan pada peserta didk untuk mengajukan pertanyaan mengenai suatu topik atau fenomena. Selanjutnya peserta didik merancang kegiatan penyelidikan, mengidentifikasi variabel, melaksanakan  penyelidikan untuk menjawab pertanyaan yang mereka ajukan sebelumnya. Pada akhir inkuiri penuh, peserta didik menarik kesimpulan dan mengajukan penjelasan didukung oleh data yang dikumpulkan serta mengomunikasikan temuan penyelidikan. Pada pembelajaran ini dominasi terletak pada siswa. Topic permasalahan diajukan oleh siswa sepenuhnya.
Tahapan/ Sintak Pembelajaran Inkuiri
Tahapan pembelajaran (sintaks) merupakan ciri khusus dari model pembelajaran. Tahapan pembelajaran merupakan urutan langkah yang akan  Dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan oleh guru. Menurut  Llewellyn (Siti Zubaida dkk, 2013) tahapan pembelajaran inkuiri secara umum adalah sebagai berikut :
1.      Identifikasi dan penetapan ruang lingkup masalah
Tahap ini adalah tahap pengembangan konsep, yaitu menghubungkan fenomena dengan apa yang sudah diketahui peserta didik dan memotivasinya untuk mengajukan pertanyaan sendiri untuk fenomena tersebut. Pada langkah ini guru harus merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting karena keberhasilan pembelajaran inkuiri sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah.
2.      Merencanakan dan memprediksi hasil
Setelah peserta didik mengeksplorasi ide-ide melalui pengalaman bereksperimen, peserta didik merumuskan pertanyaan dan membuat rencana untuk menyelidiki pertanyaan yang diajukan. Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu.  Selanjutnya peserta didik juga memprediksi dan memikirkan apa yang akan dihasilkan.Hal ini membutuhkan waktu dan latihan sebelum peserta didik belajar bagaimana merumuskan pertanyaan. Pada tahap ini peserta didik juga mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada setiap peserta didik adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
3.       Penyelidikan untuk pengumpulan data
Pada tahap ini peserta didik terlibat dalam penyelidikan dan mengumpulkan data. Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan
4.      Interpretasi data dan mengembangkan kesimpulan
Pada tahap ini peserta didik menyusun argumen untuk mendukung data dan menguji hipotesis. Peserta didik membuat hubungan generalisasi untuk mengembangkan kesimpulan. Peserta didik menganalisis data untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat menjawab masalah yang disajikan. Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebiknya guru membimbing dan menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
5.      Melakukan refleksi
Pada tahap refleksi, peserta didik dapat mengulang fenomena dan merencanakan penyelidikan lebih lanjut. Sebagai hasil refleksi mungkin muncul pertanyaan baru untuk proses penyelidikan berikutnya.
d.      Model pembelajaran Discovery
Pembelajaran dengan discovery learning pertama kali dikemukakan oleh Jerome Bruner pada tahun 1960-an. Bruner menyatakan bahwa dalam pembelajaran terjadi suatu proses penemuan (discovery), refleksi, berpikir, melakukan eksperimen, dan eksplorasi. Seiring dengan pemikiran itu, Bruner menyadari bahwa tujuan pendidikan IPA adalah perkembangan intelektual sehingga dalam IPA harus membantu perkembangan keterampilan pemecahan masalah melalui penemuan.
Balim (2014:2) “Discovery learning adalah metode yang mendorong siswa untuk sampai pada suatu kesimpulan berdasarkan kegiatan dan pengamatan mereka sendiri”. “discovery  adalah menemukan konsep melalui serangkain data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan dan percobaan” Sani (2013:97).
Model discovery learning dapat didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila siswa tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri, memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Dalam discovery learning siswa dituntut untuk menemukan hal yang baru, proses dalam menemukan hal yang baru itu di perlukan sebuah kreatifitas, sehingga diharapkan model discovery learning dengan sintaks yang ada dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa.
Langkah-langkah pembelajaran dengan discovery learning tidak terikat pada prosedur tertentu tetapi bersumber pada beberapa literatur. Berikut beberapa langkah yang sering digunakan sebagai prosedur discovery learning.
(1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi jawaban agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi materi ajar. Dalam hal ini, Bruner memberikan stimulasi dengan menggunakan teknik  ertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan yang mendorong peserta didik melakukan eksplorasi. Dengan demikian seorang guru harus menguasai teknik-teknik bertanya atau stimulus kepada peserta didik agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
(2) Problem statement (Identifikasi Masalah)
Pada langkah ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah, 2004:244). Berdasarkan  permasalahan yang dipilih, peserta didik merumuskan pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
(3) Data collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian, peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
(4) Data processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244), pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Berdasarkan generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian masalah yang perlu mendapat pembuktian secara logis
(5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan penyelidikan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification, menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau
informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
(6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi, peserta didik merumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

e.       Model pembelajaran Learning Cycle
Siklus belajar adalah pembelajaran dengan tahapan yang diatur sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensikompetensi yang harus dicapai dengan ikut serta berperan aktif. Siklus belajar menekankan pada proses penyelidikan peserta didik untuk menyelidiki pengetahuan ilmiah melalui keterampilan proses untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman belajar berdasarkan teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme tersebut mengarahkan agar peserta didik menemukan sendiri informasi atau pengetahuan yang diharapkan. Hal tersebut bertujuan agar peserta didik benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, bekerja memecahkan masalah, dan menemukan ide-ide baru.
Berikut ini dijelaskan salah satu variasi siklus belajar yang dikenal adalah model siklus belajar 5E (The 5E Learning Cycle). Model ini meliputi kegiatan Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, Evaluation (Bybee, 1997).
a.       Tahap pertama (engagement) bertujuan mempersiapkan diri peserta didik agar untuk menempuh tahap berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan adanya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Pada tahap engagement ini diupayakan dapat dibangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity) peserta didik  tentang topik yang akan dipelajari. Pada tahap ini pula peserta didik diarahkan untuk membuat perkiraan atau prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan pada tahap eksplorasi.
b.      Pada tahap kedua (exploration), peserta didik diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menguji perkiraan atau prediksi, melakukan pengamatan, mencatat hasil serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
c.       Pada tahap ketiga (explanation), peserta didik difasilitasi oleh guru untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, menunjukkan bukti atas penjelasan mereka melalui diskusi. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
d.      Pada tahap keempat (elaboration/extention), peserta didik diarahkan untuk menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving dan praktikum lanjutan.
e.       Pada tahap akhir atau kelima (evaluation), dilakukan evaluasi terhadap keefektifan tahap-tahap sebelumnya dan evaluasi terhadap hasil belajar atau kompetensi peserta didik melalui problem solving pada konteks baru, atau mendorong peserta didik melakukan penyelidikan lebih lanjut.

f.       Model pembelajaran Kooperatif
Model Group investigation seringkali disebut sebagai metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pandangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok belajar kooperatif.
Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model  group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik melalui investigasi. Democratic teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik (Budimansyah, 2007: 7). 
Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.
Eggen & Kauchak (dalam Maimunah, 2005: 21) mengemukakan Group investigation adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode GI mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
Tahap-tahap pembelajaran Group Investigasi
Pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran di atas tentunya harus berdasarkan prinsip pengelolaan atau reaksi dari metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Dimana di dalam kelas yang menerapakan model GI, pengajar lebih berperan sebagai konselor, konsultan, dan pemberi kritik yang bersahabat. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok menjadi tiga tahap:
1.      Tahap pemecahan masalah,
2.      Tahap pengelolaan kelas,
3.      Tahap pemaknaan secara perseorangan. 
Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, apa yang menjadi hakikat masalah, dan apa yang menjadi fokus masalah. Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, informasi apa yang saja yang diperlukan, bagaimana mengorganisasikan kelompok untuk memperoleh informasi itu. Sedangkan tahap pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya, dan apa yang membedakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Winataputra, 2001: 37). 
Untuk lebih praktis model GI dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut:
Kerangka Operasional Grup Investigasi

2.3. Permasalahan dalam Penerapan Model Pembelajaran
Alfian (2015) menyatakan Dalam proses pembelajaran PBL terdapat kendala kendala selama proses pembelajaran berlangsung antara lain :
(1)   kurang lengkapnya alat dan bahan di laboratorium sekolah yang digunakan untuk praktikum,
(2)   Jumlah alat dan bahan yang tidak mencukupi untuk beberapa kelompok siswa,
(3)   tidak tersedianya LCD disekolah yang digunakan peneliti,
(4)   masih adanya siswa yang sulit diatur sehingga mengganggu siswa yang lain, dan
(5)   laboratorium yang jarang dipakai sehingga banyak alat-alat praktikum yang tidak berfungsi dengan baik.
Farika (2015) mengusulkan Sebaiknya penyusunan jadwal aktifitas dalam penyelesaian proyek sangat diperhatikan karena pelaksanaan pembelajaran project based learning memerlukan banyak waktu.
Fatur (2012) menyatakan Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan guided discovery dibutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga guru harus dapat mengelola waktu sesuai dengan perencanaan. Anggota kelompok saat praktikum lebih baik jangan lebih dari lima orang agar pembagian tugas dapat berjalan dengan baik. Anggota kelompok sebaiknya dibagi dengan memperhatikan kemampuan siswa.
Kendala & Tantangan Inkuiri dalam Pembelajaran IPA
Walaupun penguasaan konsep subyek penelitian dalam pembelajaran IPA berbasis inkuiri menunjukkan tidak lebih rendah daripada penguasaan konsep subyek penelitian yang secara khusus mempelajari konsep, tetapi perolehannya tidak begitu menggembirakan. Hasil pencapaiannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 60-70 persen. Tampaknya tidak cukup mempelajari IPA dengan menggunakan scientific inquiry saja, tetap diperlukan pemantapan penguasaan konsepnya.  Bagaimana siswa belajar IPA dengan senang hati (enjoy), tetapi perolehan konsepnya tetap tinggi. Hasil penelitian Wahyuli (2004) menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa belajar dari hasil ulangan yang dikembalikan sama- sama meningkat hasil belajarnya melalui tes ulang (retest), selain belajar Fisika dengan metode penemuan perolehannya tetap tinggi (bahkan meningkat, bukan menurun).
Dari beberapa hasil penelitian sementara diperkirakan bahwa inkuri tidak cukup hanya digunakan sebagai metode atau pendekatan dalam pembelajaran IPA, bahkan tidak juga cukup inkuiri digunakan sebagai model pembelajaran. Sudah waktunya inkuiri dikembangkan serta diterapkan dalam pembelajaran IPA sebagai kemampuan yang harus diukur atau dihitung. Kemampuan (ability) sendiri menghendaki berinteraksinya pengetahuan dengan keterampilan secara berulang-ulang sehingga bisa menjadi milik orang-orang (atau siswa) yang mengalaminya (Haladyna, 1997). Tidak cukup pembelajaran IPA hanya mencapai achievement. Achievement hanya bertahan sebentar dan dapat menurun kembali, sementara ability dapat bertahan lama dan cenderung menetap. Dengan kata lain, belajar konsep IPA saja atau belajar keterampilan (proses sains, berpikir kritis) saja tidak memecahkan persoalan. Mengalami pembelajaran IPA yang memungkinkan siswa belajar aktif membangun konsep dan keterampilan sedemikian rupa terinternalisasi hingga menjadi miliknya dan menjadi kebiasaannya, merupakan target yang perlu dituju dan dicapai oleh para pendidik, termasuk pendidik di LPTK yang menyiapkan calon gurunya.
Persoalan lain yang dihadapi adalah bagaimana memotivasi calon guru agar tetap mau menerapkan perolehan pengetahuan (konsep ilmiah, prinsip) dan kemampuan (keterampilan dasar mengajar, bekal pengalaman berinkuiri, berproses) di lapangan, tidak terpengaruh oleh guru-guru di lapangan. Temuan Suciati (2005) menunjukkan bahwa para praktikan cenderung gagap lapangan ketika berkesempatan mengikuti praktek pengalaman lapangan (PPL) di sekolah.
Kekurangan model pembelajaran Group Investigasi
1.      Pembelajaran dengan model kooperatif tipe GI hanya sesuai untuk diterapkan di kelas tinggi, hal ini disebabkan karena tipe GI memerlukan tingkatan kognitif yang lebih tinggi.
2.      Kontribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang dan siswa yang memiliki prestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan, hal ini disebabkan oleh peran anggota kelompok yang pandai lebih dominan.
3.      Adanya pertentangan antar kelompok yang memiliki nilai yang lebih tinggi dengan kelompok yang memiliki nilai rendah.
4.      Untuk menyelesaikan materi pelajaran dengan pembelajaran kooperatif akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan pembelajaran yang konvensional, bahkan dapat menyebabkan materi tidak dapat disesuaikan dengan kurikulum yang ada apabila guru belum berpengalaman.
5.      Guru membutuhkan persiapan yang matang dan pengalaman yang lama untuk dapat menerapkan belajar kooperatif tipe GI dengan baik.


2.4.Solusi Permasalah dari Sisi Penulis
Solusi permasalahan model pemberlajaran Group Investigation
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang  telah dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja. Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas. Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.
Solusi dalam permasalahan inquiry
Mengajar sains melalui inkuiri memerlukan suatu metode yang melibatkan siswa dalam pembelajaran. Jadi guru sains bertindak sebagai agen perubahan, membantu pengembangan perubahan dalam mengajarkan sains, menyiapkan peralatan dan bahan, dukungan moral, motivasi, dan keterlibatan langsung. Implikasi dari inkuiri dalam pembelajaran sains menuntut guru untuk menyiapkan kegiatan yang memungkinkan siswa mengidentifikasi dan mereviu informasi sains sekunder secara kritis. Seluruh kegiatan seyogianya dilaksanakan di dalam kelas yang membantu guru dan para siswa di dalam masyarakat belajar. Guru seyogianya mengidentifikasi strategi terbaik dalam mengajarkan topik-topik tertentu dengan keter-libatan penuh siswa untuk memahami konsep dan prinsip ilmiah. Mengajar sains melalui inkuiri memberikan peluang  kepada guru  sains untuk mengembangkan kemampuan siswa dan memperkaya pemahaman sains siswa











BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Model pembelajaran Merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran dikelas atau pembelajaran tutorial untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Model pembelajaran memiliki lima unsur dasar, yaitu : syntax, social system, principles of reaction, support system, instructional dan nurturant effect.
Ada banyak model-model didalam pembelajaran, sehingga dalam menerapkan model pembelajaran harus merujuk pada karakteristik kompetensi dan materi yang ingin dicapai oleh pengajar. Penerapan model seharusnya juga mempertimbangkan karakteristik anak dan fasilitas yang ada untuk mendukung keterlaksanaan model yang telah dirancang. Dalam penyusunan model pembelajaran harus mempertimbangkan lima unsur dasar dalam penerapan model pembelajaran.


















DAFTAR RUJUKAN

Alfian, I.F, Linuwih. S, Sugiyanto. 2015.  Efektivitas Pembelajaran Model Pbl Menggunakan Audio Visual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mapel Ipa Kelas VII. Unnes Physics Education Journal, (Online), 2015, (1), (http://journal. unnes. ac. id/ sju/ index. php/upej), diakses 25 Maret 2016.
Arends, Richard I. 2013. Belajar untuk Mengajar Learning to Teach, Edisi 9 Buku 2 (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Balım, A., G. (2009). The Effects of Discovery Learning on Students’ Success and Inquiry Learning Skills. Egitim Arastirmalari-Eurasian Journal of Educational Research, 35, 1-20.
Bybee, R.W. 1989. Science and Technology Education  for the Elementary Year: Framework for Curriculum and Instruction. Washington, D.C: The Nationan Center for Improving Instruction.
Farika. M.A, Sofyan. A. 2015. Pengembangan Lks Dengan Pendekatan Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Siswa Smp. Unnes Physics Education Journal, (Online), 2015, (1), (http://journal. unnes. ac. Id /sju /index. php/ upej), diakses 25 Maret 2016.
Fathur. R, Susanto.H, Ellianawati. 2012. Penerapan Model Discovery Terbimbing Pada Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Unnes Physics Education Journal, (Online), 2012, (1), (http://journal. unnes. ac. Id /sju /index. php/ upej), diakses 1 April 2016.
Rusman. 2011. Model-model pembelaharan mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Sani, Ridwan A. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Wina.S . 2014. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenamedia Group.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar