Senin, 02 Desember 2013

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN
 MODEL TALKING STICK PADA MATERI ADAPTASI
DIKELAS IX B SMP NEGERI 10 MUARO JAMBI

Bambang anwar
Guru SMP Negeri 4 Muaro Jambi
Facebook : bambang anwar S.Pd
Jln sersan anwar bay Perum. GMC RT. 10 kel. Kenali Besar
Kec. Kota baru, Jambi

Abstrak : berdasarkan masalah yang selalu dihadapi guru dalam pembelajaran diantaranya aktivitas pembelajaran monoton dan komunikasi yang berlangsung satu arah membuat kelompok lesson study memilih model talking stick. Pembelajaran dengan menggunakan model talking stick yang berlangsung dalam kegiatan lesson study memanfaatkan media yang menarik dan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran, hampir seluruh peserta didik terlihat memperhatikan setiap tahapan kegiatan pembelajaran berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh observer. Dalam kegiatan lesson study harus sesuai dengan tahapan yang sudah di tetapkan yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (do),dan refleksi (se).  

Kata kunci : talking stick, adaptasi, lesson study

Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan manusia mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Melalui pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri maupun memberdayakan potensi alam dan lingkungan untuk kepentingan hidupnya. Usaha untuk meningkatkan diri melalui pendidikan harus dilakukan agar tidak ketinggalan dalam dunia pengetahuan.
            Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah, terutama pemerintah Propinsi Jambi untuk meningkatkan mutu pendidikan, seperti peningkatan kemampuan guru, pengadaan buku ajar, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Namun harapan pemerintah Propinsi Jambi untuk meningkatkan mutu pendidikan ternyata belum tercapai sepenuhnya di setiap sekolah. Seperti yang terjadi di Muaro Jambi, pelaksanaan pembelajaran dibeberapa sekolah masih bersifat teacher centered (berpusat pada guru), dimana guru salah satu sumber utama dan pusat informasi, sedangkan siswa mencatat penjelasan guru dan mengerjakan tugas. Ketika Siswa diberi tugas atau latihan, kebanyakan siswa tidak mampu mengerjakan soal yang diberikan, hanya beberapa siswa yang mampu mengerjakannya, sehingga ketika diadakan ulangan dengan soal yang hampir sama dengan soal yang telah di berikan pada saat latihan kebanyakan siswa tidak dapat mengerjakannya.
Pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa. Agar interaksi tercipta dengan baik, maka guru harus menjalankan fungsinya sebagai fasilitator. Mengenai defenisi belajar banyak ahli telah mengemukakan pendapat, diantaranya Hasan (1994) menyatakan bahwa ”Belajar adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.”
Interaksi yang terjadi pada proses pembelajaran di sekolah umumnya  berlangsung satu arah yaitu dari guru terhadap siswa. Interaksi siswa dengan siswa yang lainnya dalam pembelajaran sangat rendah. Hal ini menjadikan belajar menjadi monoton dan siswa kurang terlibat secara aktif, akibatnya siswa cepat bosan, kurang serius sehingga materi dirasakan sulit dan hasil belajar yang diperoleh kurang maksimal.
Selain kemampuan siswa menjawab soal yang masih rendah, kemampuan siswa untuk bertanya juga masih kurang memuaskan, sehingga pembelajaran tidak sesuai dengan yang diharapkan,
Masalah yang selalu ada didalam pembelajaran dikelas diantaranya adala :
1.      Peserta didik belum siap untuk belajar.
2.      Peserta didik  merasa tidak menarik dengan materi pembelajaran.
3.      Peserta didik tidak berani untuk bertanya tentang materi.
4.      Peserta didik tidak mampu menjawab pertanyaan guru karena kurang memiliki pengetahuan awal atau tidak memiliki keberanian.
5.      Peserta didik selalu merasa pelajaran sain adalah pelajaran paling susah nomor dua setelah matematika, karena kurang menarik.
6.      Interaksi belajar berlangsung satu arah, yaitu dari guru ke peserta didik.
7.      Pembelajaran IPA berlangsung secara monoton dan menegangkan.
dari beberapa masalah diatas guru mencoba untuk mengatasi nya dengan menggunakan model talking stick yang dimodifikasi dengan musik dan penggunaan perangkat IT yang bisa membuat pelajaran IPA khusus nya materi adaptasi menjadi lebih menarik dan penggunaan LKS diawal pembelajaran berisi berbagai macam gambar hewan yang mesti diisi secara individu oleh peserta didik.
Model pembelajaran talking stick adalah model belajar yang menggunakan bantuan tongkat, dimana setiap siswa yang memegang tongkat harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam pelaksanaan ini model talking stick nya di modifikasi dengan tambahan musik yang mengiringi ketika tongkat berpindah dari satu tangan ke tangan peserta didik yang lain, setiap siswa yang terakhir memegang tongkat ketika musik berhenti maka siswa tersebut harus segera membuka soal yang telah disediakan guru di atas mejanya dibaca soalnya dengan kuat sehingga terdengar oleh semua peserta didik yang lain dan harus segera dijawab.
Pelaksanaan model pembelajaran yalking stick ini berlangsung dengan lesson study yang merupakan kegiatan ongoing dalam tahap pelaksanaan Desiminasi TEQIP atas kerjasama Universitas Negeri Malang (UM) dan PT. Pertamina yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru.
Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru serta meningkatkan kualitas pembelajaran (Ibrohim, 2013)
Jadi, lesson study adalah tahapan pembelajaran kolaboratif guru dengan teman sejawat bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat diperbaiki semua kekurangan dan mempertahankan semua kegiatan yang sudah bagus.
Langkah kegiatan lesson study dengan model pembelajaran taking stick
Dalam pelaksanaan lesson study ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh kelompok lesoon study yaitu plan ( perencanaan), do (pelaksanaan), dan se (refleksi). Semua tahapan ini berlangsung dalam kelompok lesson study (terdiri dari 1 guru model dan 2 observer) yang berfungsi merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang terdiri dari guru model dan observer, dan refleksi yang dilakukan oleh observer terhadap guru model dan didampingi oleh seorang expert atau trainer, dalam pelaksanan lesson study di SMP Negeri 10 Muaro Jambi yang berperan sebagai Guru model adalah peneliti sendiri sedangkan observer yaitu Ririn Nopianty, S.Pd guru SMP Negeri Satap Sungai Bertam dan Raminalwati, S.Pd guru SMP Negeri 12 Muaro Jambi. 
1.      Plan (tahap perencanaan)
Pada tahap perencanaan berlangsung dalam kegiatan deseminasi 1 pada tanggal 26-31 agustus 2013 di hotel ABADI Jambi, dalam perencanaan ini peneliti  diberikan tugas untuk menjadi guru model pada ongoing 3 yang berlangsung tanggal 19 September. Guru model mencari materi yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan dikelas IX pada saat on goin yaitu materi Adaptasi. Setelah ditentukan materi guru model bersama kelompok lesson study menyiapkan RPP dan LKS dan soal-soal yang akan dilaksanakan dalam model talking stick berdasarkan SK dan KD yang sudah ada agar tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, sedangkan lembar observasi sudah disediakan oleh trainer. Selanjutnya guru model beserta kelompok lesson study mengidentifikasi masalah-masalah yang sering ditemukan dikelas ketika berlangsungnya pembelajaran. Setelah mengidentifikasi masalah, guru model beserta kelompok lesson study mencari model pembelajaran yang cocok digunakan pada pembelajaran adaptasi agar pembelajaran menjadi aktif dan menarik bagi siswa.
Model yang dipilih oleh guru model adalah Model Pembelajaran talking Stick dengan musik.
2.      Do (tahap pelaksanaan)
Tahap pelaksanaan berlangsung pada tanggal 19 September 2013 jam pelajaran ke 3-4 di kelas IX B di SMP Negeri 10 Muaro Jambi yang terdiri dari 22 peserta didik dengan materi adaptasi mahluk hidup.
Guru memulai pembelajaran dengan memberikan salam dan menyapa peserta didik dengan meberikan candaan agar peserta didik menjadi rileks, selanjutnya guru memimpin doa sebelum memulai pembelajaran, setelah berdoa guru memperkenalkan diri dan mengabsen peserta didik untuk mengenali nama peserta didik satu persatu, guru melanjutkan pembelajaran dengan memberikan LKS kepada  setiap peserta didik yang berisi berbagai macam gambar binatang, peserta didik diberikan waktu 5 menit untuk menjawab semua pertanyaan yang ada diLKS  untuk menggali pengetahuan awal peserta didik tentang adaptasi mahluk hidup. Ketika siswa mengerjakan soal guru menyiapkan perlengkapan IT berupa infokus, powerpoint adaptasi, laptop, speaker, stick drum, dan menuliskan data hari, tanggal, mata palajaran serta judul materi yang dibahas pada pertemuan itu di papan tulis.
Ketika batas waktu yang ditentukan selesai guru mengumpulkan semua LKS yang dikerjakan siswa baik yang sudah diisi maupun yang masih belum terisi sesuai dengan kemapuan pengetahuan awal siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, guru menjelaskan sedikit materi tentang adaptasi dengan menggunakan powerpoint selanjutnya peserta didik diminta untuk menanyakan hal yang belum mereka pahami tentang materi adaptasi yang sudah disajikan guru. Guru menjelaskan secara singkat tentang model pembelajaran yang akan digunakan. Guru meletakkan soal berkaitan dengan materi adaptasi  secara terlipat diatas meja masing-masing peserta didik. Guru kemudian memulai model talking stick dengan diiringi musik dalam memindahkan stick.
Guru memulai dengan menghidupkan musik dan stick mulai dipindahkan dari peserta didik ke peserta didik yang lain, dalam beberapa detik guru mematikan musik, peserta didik terakhir yang memegang stick disuruh membuka soal dan membaca dengan keras sehingga didengar oleh seluruh peserta didik, Peserta didik yang memegang soal di berikan waktu 30 detik untuk berpikir dan menjawab soal. Jika waktu habis musik dilanjutkan dan stick kembali di pindahkan, siswa yang sudah berhasil menjawab tetap ikut memindahkan stick tapi tidak menjawab soal lagi, jika dia mendapatkan stick maka peserta didik sebelumnya yang wajib menjawab soal, kegiatan ini terus diulang sehingga seluruh peserta didik mendapat kesempatan menjawab soal.
Dalam tahap penutupan, guru menanyakan kesan peserta didik tentang materi dan model, kemudian peserta didik diminta menyimpulkan semua materi dan soal yang sudah disampaikan, guru memberikan penguatan dan meluruskan pemahaman peserta didik yang masih salah.
Guru menutup pelajaran dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk menyalin dan menjawab semua soal yang telah diberikan pada saat model talking stick.
3.      Se (tahap refleksi)
Dalam tahap se guru model, observer, guru mata pelajaran, trainer dan moderator melakukan refleksi. Dalam pelaksanaan refleksi moderator memulai dengan memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada guru model yang telah bersedia menjadi guru model, dilanjutkan dengan menanyakan kesan guru model di dalam proses lesson study, moderator memberikan kesempatan kepada masing-masing observer untuk menyampaikan hasil pengamatan mereka terhadap aktivitas pembelajaran dan aktivitas peserta didik di hadapan seluruh kelompok lesson study, setelah kedua observer menyampaikan hasil pengamatannya moderator memberikan kesempatan kepada trainer untuk memberikan komentar terhadap kegiatan lesson study di SMP Negeri 10 Muaro jambi. Moderator mencatat seluruh hasil diskusi. Moderator menutup pelaksanaan lesson study dengan memimpin doa.

HASIL
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh 2 observer terdiri dari :
a.       Kesiapan belajar peserta didik
Peserta didik memperhatikan dan antusias ketika guru menyiapkan perlengkapan IT yang dipakai terdiri dari laptop, infocus, tampilan powerpoin adaptasi dan LKS.
Peserta didik juga menyiapkan perlengkapan belajar mereka serta terlihat antusias dan ada rasa ingin tahu cukup besar
b.      Respon peserta didik ketika guru menyampaikan kegiatan
Motivasi peserta didik dalam belajar baik, rasa ingin tahu cukup besar. Ketika peserta didik diberikan LKS, peserta didik terlihat serius dan semangat mengerjakan LKS berisi gambar hewan yang diminta untuk meyebutkan ciri-ciri khusus nya, pada saat mengerjakan LKS ada beberapa peserta didik yang bertanya kepada peserta didik lainnya sementara guru menyuruh untuk mengerjakan sendiri-sendiri,. Peserta didik juga berinteraksi dengan guru yaitu dengan cara ada yang bertanya kepada guru tentang LKS yang mereka kerjakan.
c.       Interaksi peserta didik dengan peserta didik lainnya.
Pada saat mengerjakan LKS dan saat guru melaksanakan model belajar Talking Stick
Pada saat diberikan tugas kelompok sampai berakhirnya tugas tersebut
d.      Interaksi peserta didik dengan guru.
Dari awal pembelajaran sampai selesai pembelajaran semua peserta didik memperhatikan guru ketika menjelaskan materi pelajaran dan ketika pelaksanaan model talking stick.
e.       Peserta didik yang tidak bisa mengikuti pelajaran secara baik.
Semua peserta didik serius, antusias dan ikut belajar dengan baik sehingga tidak terlihat speserta didik yang tidak bisa mengikuti pelajaran.
f.       Mengapa peserta didik tidak belajar dengan baik
Tidak ada siswa yang tidak belajar dengan baik
g.      Bagai mana upaya guru untuk mengatasi gangguan tersebut.
Ketika ada peserta didik yang tidak memperhatikan dan tidak mendengarkan temannya membaca soal atau menjawab soal maka guru langsung mendekati dan meminta peserta didik tersebut untuk mengulangi soal atau jawaban temannya tersebut.
h.      Alternatif apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi peserta didik yang terganggu belajar.
Selalu memberikan perhatian yang lebih kepada peserta didik yang terganggu serta memberikan semangat dan pujian.
i.        Bagaimana usaha guru daam mendorong peserta didik yang tidak aktif belajar supaya aktif belajar.
Guru selalu berusaha memperhatikan dan mendekati peserta didik yang tidak aktif.
j.        Bagaimana peserta didik terlibat dalam kegiatan penutup
Semua peserta didik terlibat dalam kegiatan penutup.
k.      Bagaimana respon peserta didik ketika guru melnyampaikan tindak lanjut.
Peserta didik merespon dengan baik arahan dan tugas yang diberikan oleh guru
l.        Pelajaran berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran.
·         Peserta didik akan semangat jika guru semangat menyajikan pelajaran.
·         Peserta didik antusias jika diberikan gambar yang menarik perhatian mereka.
·         Model dan metode sangat menarik dan membuat peserta didik menjadi antusias dalam pembelajaran.
·         Pembelajaran harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
·         Guru harus selalu berusaha agar peserta didik merasa dekat sehingga peserta didik tidak merasa canggung untuk bertanya.
PEMBAHASAN
Pada pelaksanaan ongoing TEQIP yang menerapkan lesson study di SMP Negeri 10 Muaro jambi merupakan pengalaman baru bagi peneliti, dan sangat berguna untuk mengetahui apa saja kegiatan didalam kelas yang harus diperbaiki dan dipertahankan.  Dalam Menurut Saito dalam ibrahim (2013) Pelaksanan Lesson study harus mencakup 3  tahapan utama yaitu : (1) perencanaan (plan), (2) pelaksanaan (do), (3) refleksi (se). Tahap perencanan (plan) dilakukan dalam kegiatan deseminasi I oleh kelompok lesson study untuk ongoing 3, tahapan plan bertujuan untuk menghasilakan rancangaan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran ibrahim (2013). Dalam tahapan plan, rancangan pembelajaran yang dibuat berdasarkan permasalahan yang sering ditemukan di dalam kelas pada umumnya. Penggunaan model pembelajaran yang dipilih adalah model yang diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran bermakna, menyenangkan dan membangkitkan antusias peserta didik. Tahapan pelaksanaan (do) dilaksanakan dengan bantuan teman sejawat yang termasuk dalam anggota lesson study peserta ongoing 3 dan deseminasi I, bantuan observer dalam mengamati aktivitas peserta didik dan proses belajar sangat penting sebagai bahan perbaikan untuk mendapatkan hasil akhir yaitu peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Tahanpan refleksi (se) dilaksanakan setelah melakukan plan, refleksi bertujuan untuk mengetahui semua kelebihan serta kekurangan aktivitas siswa dan aktivitas pembelajaran. Untuk tahapan refleksi, guru model memang harus memiliki jiwa yang bersih dan dapat menerima semua saran dan kritikan terhadap aktivitas siswa dan kegiatan pembelajaran. Refleksi harus berjalan dengan cara berdiskusi yang saling menghargai, menghormati, kongkrit dan tidak saling menyalahkan. 
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran talking stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Metode talking stick ini sangat tepat digunakan dalam pengembangan proses pembelajaran PAIKEM. Langkah-langkah yang harus digunakan dalam penerapan metode talking stick ntara lain :
  1. Pembelajaran dengan metode talking stick di awali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi tersebut. Berikan waaktu yang cukup untuk aktifitas ini.
  2. Guru selanjutnya meminta kepada peserta didik menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya.
  3. Tongkat tersebut diberikan kepada salah satu peserta didik, peserta didik yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru Kemudian seterusnya.
Ketika stick bergulir dari peserta didik lainnya, seyogyanya diiringi musik langkah akhir dari metode talking stick adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan peserta didik, selanjutnya bersamama-sama peserta didik merumuskan kesimpulan, agus supriyono (2009). Dalam pelaksanaan model talking stick di SMP Negeri 10 Muaro Jambi dilakukan dengan iringan musik yang sedang populer dan dikenal oleh seluruh peserta didik, diharapkan dengan musik peserta didik dapat antusias dan dapat berkonsentrasi dengan pertanyaan yang telah disediakan guru diatas meja masing-masing.
Media yang digunakan dalam pelakasanaan pembelajaran adalah stick drum, IT (laptop dan infokus) yang menampilkan power point materi adaptasi, alat tulis (spidol 3 warna, papan tulis) dan speaker. Semua media itu digunakan untuk mendapatkan kegiatan pembelajaran yang bermakna.  Media merupakan perantara pesan atau informasi dari sumber informasi ke penerima sutarman (2013), selanjutnya sutarman menjelaskan bahwa media dapat memotivasi peserta didik untuk belajar, memotivasi peserta didik untuk bertanya, merangsang peserta didik untuk aktif. Melalui media peserta didik menjadi tertarik pada pelajaran, memunculkan pertanyaan pada diri peserta didik akibat adanya konflik kognitif.
Media sangat berperan penting untuk kelancaran proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas peserta didik. Media harus selalu ada dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan ke peserta didik juga sebagai alat untuk peserta didik untuk menemukan pengetahuan yang baru.

PENUTUP
Kesimpulan
            Pelaksanaan pembelajaran dengan cara lesson study dalam kegiatan ongoing bagian dari deseminasi I menggunakan model pembelajaran talking stick dipilih untuk menghasilkan kegiatan pembelajaran bermakna, menyenangkan dan dapat meningkatkan aktivitas peserta didik yang berkualitas.
            Media sangat berperan penting dalam pembelajaran sebagai perantara pesan dari sumber informasi ke penerima. Pemilihan media harus berdasarkan ketersedian dan kesesuaian dengan materi ajar, media harus dapat meningkatkan motivasi dan antusias  peserta didik dalam mengikuti pembelajaran serta mempermudah untuk memahami materi yang diajarkan.
Saran
            Pada pelaksanaan lesson study ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki peneliti, untuk itu disarankan untuk penelitian lanjutan oleh peneliti selanjutnya, dengan memilih model dan media yang sesuai dengan permasalahan yang ditemukan dikelas.
DAFTAR RUJUKAN
Agus suprijono, 2009. cooperatif learning, yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ibrahim, 2013. Panduan pelaksanaan lesson study, Malang: Universitas Negeri Malang.
Hasan Chalijah, 1994. Dimensi-dimensi psikologi pendidikan, Surabaya: Al Iklas.
Sutarman dan Endang, 2013. Media pembelajaran sains SMP, Malang: Universitas Negeri Malang.