PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN
MODEL TALKING
STICK PADA MATERI ADAPTASI
DIKELAS IX B SMP NEGERI 10 MUARO JAMBI
Bambang anwar
Guru SMP Negeri 4 Muaro Jambi
Email : bambanganwar4@gmail.com
Facebook : bambang anwar S.Pd
Jln sersan anwar bay Perum. GMC RT. 10
kel. Kenali Besar
Kec. Kota baru, Jambi
Abstrak : berdasarkan
masalah yang selalu dihadapi guru dalam pembelajaran diantaranya aktivitas
pembelajaran monoton dan komunikasi yang berlangsung satu arah membuat kelompok
lesson study memilih model talking stick. Pembelajaran dengan menggunakan model
talking stick yang berlangsung dalam kegiatan lesson study memanfaatkan media
yang menarik dan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran, hampir seluruh
peserta didik terlihat memperhatikan setiap tahapan kegiatan pembelajaran
berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh observer. Dalam kegiatan lesson
study harus sesuai dengan tahapan yang sudah di tetapkan yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (do),dan refleksi (se).
Kata kunci : talking
stick, adaptasi, lesson study
Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan yang
penting dalam kehidupan manusia mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Melalui pendidikan, manusia dapat
mengembangkan diri maupun memberdayakan potensi alam dan lingkungan untuk
kepentingan hidupnya. Usaha untuk meningkatkan diri melalui pendidikan harus
dilakukan agar tidak ketinggalan dalam dunia pengetahuan.
Berbagai usaha telah dilakukan
pemerintah, terutama pemerintah Propinsi Jambi untuk meningkatkan mutu
pendidikan, seperti peningkatan kemampuan guru, pengadaan buku ajar, melengkapi
sarana dan prasarana pendidikan. Namun harapan pemerintah Propinsi Jambi untuk
meningkatkan mutu pendidikan ternyata belum tercapai sepenuhnya di setiap
sekolah.
Seperti yang terjadi di Muaro Jambi, pelaksanaan pembelajaran dibeberapa sekolah masih bersifat teacher centered (berpusat pada guru), dimana guru salah satu sumber
utama dan pusat informasi, sedangkan siswa mencatat penjelasan guru dan
mengerjakan tugas. Ketika Siswa diberi tugas atau latihan, kebanyakan siswa
tidak mampu mengerjakan soal yang diberikan, hanya beberapa siswa yang mampu
mengerjakannya, sehingga ketika diadakan ulangan dengan soal yang hampir sama
dengan soal yang telah di berikan pada saat latihan kebanyakan siswa tidak
dapat mengerjakannya.
Pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara guru dengan siswa,
antara siswa dengan siswa. Agar interaksi tercipta dengan baik, maka guru harus
menjalankan fungsinya sebagai fasilitator. Mengenai defenisi belajar banyak
ahli telah mengemukakan pendapat, diantaranya Hasan (1994) menyatakan bahwa
”Belajar adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan
berbekas.”
Interaksi yang terjadi pada
proses pembelajaran di sekolah umumnya berlangsung satu arah
yaitu dari guru terhadap siswa. Interaksi siswa dengan siswa yang lainnya dalam
pembelajaran sangat rendah. Hal ini menjadikan belajar menjadi monoton dan
siswa kurang terlibat secara aktif, akibatnya siswa cepat bosan, kurang serius
sehingga materi dirasakan sulit dan hasil belajar yang diperoleh kurang
maksimal.
Selain kemampuan siswa menjawab soal yang
masih rendah, kemampuan siswa untuk bertanya juga masih kurang memuaskan,
sehingga pembelajaran tidak sesuai dengan yang diharapkan,
Masalah yang selalu ada didalam pembelajaran
dikelas diantaranya adala :
1. Peserta didik belum siap untuk belajar.
2. Peserta didik
merasa tidak menarik dengan materi pembelajaran.
3. Peserta didik tidak berani untuk bertanya tentang materi.
4. Peserta didik tidak mampu menjawab pertanyaan guru karena
kurang memiliki pengetahuan awal atau tidak memiliki keberanian.
5. Peserta didik selalu merasa pelajaran sain adalah
pelajaran paling susah nomor dua setelah matematika, karena kurang menarik.
6. Interaksi belajar berlangsung satu arah, yaitu dari guru
ke peserta didik.
7. Pembelajaran IPA berlangsung secara monoton dan
menegangkan.
dari
beberapa masalah diatas guru mencoba untuk mengatasi nya dengan menggunakan
model talking stick yang dimodifikasi dengan musik dan penggunaan perangkat IT
yang bisa membuat pelajaran IPA khusus nya materi adaptasi menjadi lebih
menarik dan penggunaan LKS diawal pembelajaran berisi berbagai macam gambar
hewan yang mesti diisi secara individu oleh peserta didik.
Model pembelajaran talking stick
adalah model belajar yang menggunakan bantuan tongkat, dimana setiap siswa yang
memegang tongkat harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam
pelaksanaan ini model talking stick nya di modifikasi dengan tambahan musik
yang mengiringi ketika tongkat berpindah dari satu tangan ke tangan peserta
didik yang lain, setiap siswa yang terakhir memegang tongkat ketika musik
berhenti maka siswa tersebut harus segera membuka soal yang telah disediakan
guru di atas mejanya dibaca soalnya dengan kuat sehingga terdengar oleh semua
peserta didik yang lain dan harus segera dijawab.
Pelaksanaan model pembelajaran yalking
stick ini berlangsung dengan lesson study yang merupakan kegiatan ongoing dalam
tahap pelaksanaan Desiminasi TEQIP atas kerjasama Universitas Negeri Malang
(UM) dan PT. Pertamina yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru.
Lesson
study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip
kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar dalam rangka
meningkatkan profesionalisme guru serta meningkatkan kualitas pembelajaran
(Ibrohim, 2013)
Jadi, lesson study adalah tahapan
pembelajaran kolaboratif guru dengan teman sejawat bertujuan untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran yang dapat diperbaiki semua kekurangan dan mempertahankan
semua kegiatan yang sudah bagus.
Langkah kegiatan
lesson study dengan model pembelajaran taking stick
Dalam pelaksanaan lesson study ada tiga
tahapan yang harus dilakukan oleh kelompok lesoon study yaitu plan (
perencanaan), do (pelaksanaan), dan se (refleksi). Semua tahapan ini
berlangsung dalam kelompok lesson study (terdiri dari 1 guru model dan 2
observer) yang berfungsi merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran
yang terdiri dari guru model dan observer, dan refleksi yang dilakukan oleh
observer terhadap guru model dan didampingi oleh seorang expert atau trainer,
dalam pelaksanan lesson study di SMP Negeri 10 Muaro Jambi yang berperan
sebagai Guru model adalah peneliti sendiri sedangkan observer yaitu Ririn
Nopianty, S.Pd guru SMP Negeri Satap Sungai Bertam dan Raminalwati, S.Pd guru
SMP Negeri 12 Muaro Jambi.
1. Plan (tahap perencanaan)
Pada tahap perencanaan
berlangsung dalam kegiatan deseminasi 1 pada tanggal 26-31 agustus 2013 di
hotel ABADI Jambi, dalam perencanaan ini peneliti diberikan tugas untuk menjadi guru model pada
ongoing 3 yang berlangsung tanggal 19 September. Guru model mencari materi yang
disesuaikan dengan materi yang diajarkan dikelas IX pada saat on goin yaitu
materi Adaptasi. Setelah ditentukan materi guru model bersama kelompok lesson
study menyiapkan RPP dan LKS dan soal-soal yang akan dilaksanakan dalam model
talking stick berdasarkan SK dan KD yang sudah ada agar tercapai tujuan
pembelajaran yang diinginkan, sedangkan lembar observasi sudah disediakan oleh
trainer. Selanjutnya guru model beserta kelompok lesson study mengidentifikasi
masalah-masalah yang sering ditemukan dikelas ketika berlangsungnya
pembelajaran. Setelah mengidentifikasi masalah, guru model beserta kelompok
lesson study mencari model pembelajaran yang cocok digunakan pada pembelajaran
adaptasi agar pembelajaran menjadi aktif dan menarik bagi siswa.
Model yang dipilih oleh guru model adalah Model
Pembelajaran talking Stick dengan musik.
2. Do (tahap pelaksanaan)
Tahap pelaksanaan
berlangsung pada tanggal 19 September 2013 jam pelajaran ke 3-4 di kelas IX B di
SMP Negeri 10 Muaro Jambi yang terdiri dari 22 peserta didik dengan materi
adaptasi mahluk hidup.
Guru memulai
pembelajaran dengan memberikan salam dan menyapa peserta didik dengan meberikan
candaan agar peserta didik menjadi rileks, selanjutnya guru memimpin doa
sebelum memulai pembelajaran, setelah berdoa guru memperkenalkan diri dan
mengabsen peserta didik untuk mengenali nama peserta didik satu persatu, guru
melanjutkan pembelajaran dengan memberikan LKS kepada setiap peserta didik yang berisi berbagai
macam gambar binatang, peserta didik diberikan waktu 5 menit untuk menjawab
semua pertanyaan yang ada diLKS untuk
menggali pengetahuan awal peserta didik tentang adaptasi mahluk hidup. Ketika
siswa mengerjakan soal guru menyiapkan perlengkapan IT berupa infokus,
powerpoint adaptasi, laptop, speaker, stick drum, dan menuliskan data hari,
tanggal, mata palajaran serta judul materi yang dibahas pada pertemuan itu di
papan tulis.
Ketika batas waktu yang ditentukan selesai guru mengumpulkan
semua LKS yang dikerjakan siswa baik yang sudah diisi maupun yang masih belum
terisi sesuai dengan kemapuan pengetahuan awal siswa.
Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, guru menjelaskan sedikit materi tentang
adaptasi dengan menggunakan powerpoint selanjutnya peserta didik diminta untuk
menanyakan hal yang belum mereka pahami tentang materi adaptasi yang sudah
disajikan guru. Guru menjelaskan secara singkat tentang model pembelajaran yang
akan digunakan. Guru meletakkan soal berkaitan dengan materi adaptasi secara terlipat diatas meja masing-masing
peserta didik. Guru kemudian memulai model talking stick dengan diiringi musik
dalam memindahkan stick.
Guru memulai dengan
menghidupkan musik dan stick mulai dipindahkan dari peserta didik ke peserta
didik yang lain, dalam beberapa detik guru mematikan musik, peserta didik
terakhir yang memegang stick disuruh membuka soal dan membaca dengan keras
sehingga didengar oleh seluruh peserta didik, Peserta didik yang memegang soal
di berikan waktu 30 detik untuk berpikir dan menjawab soal. Jika waktu habis
musik dilanjutkan dan stick kembali di pindahkan, siswa yang sudah berhasil
menjawab tetap ikut memindahkan stick tapi tidak menjawab soal lagi, jika dia
mendapatkan stick maka peserta didik sebelumnya yang wajib menjawab soal,
kegiatan ini terus diulang sehingga seluruh peserta didik mendapat kesempatan
menjawab soal.
Dalam tahap
penutupan, guru menanyakan kesan peserta didik tentang materi dan model,
kemudian peserta didik diminta menyimpulkan semua materi dan soal yang sudah
disampaikan, guru memberikan penguatan dan meluruskan pemahaman peserta didik
yang masih salah.
Guru menutup
pelajaran dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk menyalin dan
menjawab semua soal yang telah diberikan pada saat model talking stick.
3. Se (tahap refleksi)
Dalam tahap se guru model, observer, guru mata
pelajaran, trainer dan moderator melakukan refleksi. Dalam pelaksanaan refleksi
moderator memulai dengan memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada guru
model yang telah bersedia menjadi guru model, dilanjutkan dengan menanyakan
kesan guru model di dalam proses lesson study, moderator memberikan kesempatan
kepada masing-masing observer untuk menyampaikan hasil pengamatan mereka
terhadap aktivitas pembelajaran dan aktivitas peserta didik di hadapan seluruh
kelompok lesson study, setelah kedua observer menyampaikan hasil pengamatannya moderator
memberikan kesempatan kepada trainer untuk memberikan komentar terhadap
kegiatan lesson study di SMP Negeri 10 Muaro jambi. Moderator mencatat seluruh
hasil diskusi. Moderator menutup pelaksanaan lesson study dengan memimpin doa.
HASIL
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh 2 observer terdiri
dari :
a. Kesiapan belajar peserta didik
Peserta
didik memperhatikan dan antusias ketika guru menyiapkan perlengkapan IT yang
dipakai terdiri dari laptop, infocus, tampilan powerpoin adaptasi dan LKS.
Peserta
didik juga menyiapkan perlengkapan belajar mereka serta terlihat antusias dan
ada rasa ingin tahu cukup besar
b. Respon peserta didik ketika guru menyampaikan kegiatan
Motivasi
peserta didik dalam belajar baik, rasa ingin tahu cukup besar. Ketika peserta
didik diberikan LKS, peserta didik terlihat serius dan semangat mengerjakan LKS
berisi gambar hewan yang diminta untuk meyebutkan ciri-ciri khusus nya, pada
saat mengerjakan LKS ada beberapa peserta didik yang bertanya kepada peserta
didik lainnya sementara guru menyuruh untuk mengerjakan sendiri-sendiri,.
Peserta didik juga berinteraksi dengan guru yaitu dengan cara ada yang bertanya
kepada guru tentang LKS yang mereka kerjakan.
c. Interaksi peserta didik dengan peserta didik lainnya.
Pada
saat mengerjakan LKS dan saat guru melaksanakan model belajar Talking Stick
Pada
saat diberikan tugas kelompok sampai berakhirnya tugas tersebut
d. Interaksi peserta didik dengan guru.
Dari
awal pembelajaran sampai selesai pembelajaran semua peserta didik memperhatikan
guru ketika menjelaskan materi pelajaran dan ketika pelaksanaan model talking
stick.
e. Peserta didik yang tidak bisa mengikuti pelajaran secara
baik.
Semua
peserta didik serius, antusias dan ikut belajar dengan baik sehingga tidak
terlihat speserta didik yang tidak bisa mengikuti pelajaran.
f. Mengapa peserta didik tidak belajar dengan baik
Tidak
ada siswa yang tidak belajar dengan baik
g. Bagai mana upaya guru untuk mengatasi gangguan tersebut.
Ketika
ada peserta didik yang tidak memperhatikan dan tidak mendengarkan temannya
membaca soal atau menjawab soal maka guru langsung mendekati dan meminta
peserta didik tersebut untuk mengulangi soal atau jawaban temannya tersebut.
h. Alternatif apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi
peserta didik yang terganggu belajar.
Selalu
memberikan perhatian yang lebih kepada peserta didik yang terganggu serta
memberikan semangat dan pujian.
i.
Bagaimana
usaha guru daam mendorong peserta didik yang tidak aktif belajar supaya aktif
belajar.
Guru
selalu berusaha memperhatikan dan mendekati peserta didik yang tidak aktif.
j.
Bagaimana
peserta didik terlibat dalam kegiatan penutup
Semua
peserta didik terlibat dalam kegiatan penutup.
k. Bagaimana respon peserta didik ketika guru melnyampaikan
tindak lanjut.
Peserta
didik merespon dengan baik arahan dan tugas yang diberikan oleh guru
l.
Pelajaran
berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran.
·
Peserta
didik akan semangat jika guru semangat menyajikan pelajaran.
·
Peserta
didik antusias jika diberikan gambar yang menarik perhatian mereka.
·
Model
dan metode sangat menarik dan membuat peserta didik menjadi antusias dalam
pembelajaran.
·
Pembelajaran
harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
·
Guru
harus selalu berusaha agar peserta didik merasa dekat sehingga peserta didik
tidak merasa canggung untuk bertanya.
PEMBAHASAN
Pada pelaksanaan ongoing TEQIP yang
menerapkan lesson study di SMP Negeri
10 Muaro jambi merupakan pengalaman baru bagi peneliti, dan sangat berguna
untuk mengetahui apa saja kegiatan didalam kelas yang harus diperbaiki dan
dipertahankan. Dalam Menurut Saito dalam
ibrahim (2013) Pelaksanan Lesson study
harus mencakup 3 tahapan utama yaitu :
(1) perencanaan (plan), (2)
pelaksanaan (do), (3) refleksi (se). Tahap perencanan (plan) dilakukan dalam kegiatan
deseminasi I oleh kelompok lesson study untuk ongoing 3, tahapan plan bertujuan
untuk menghasilakan rancangaan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan
peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta
didik dalam pembelajaran ibrahim (2013). Dalam tahapan plan, rancangan
pembelajaran yang dibuat berdasarkan permasalahan yang sering ditemukan di
dalam kelas pada umumnya. Penggunaan model pembelajaran yang dipilih adalah
model yang diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran bermakna, menyenangkan
dan membangkitkan antusias peserta didik. Tahapan pelaksanaan (do) dilaksanakan dengan bantuan teman
sejawat yang termasuk dalam anggota lesson study peserta ongoing 3 dan
deseminasi I, bantuan observer dalam mengamati aktivitas peserta didik dan
proses belajar sangat penting sebagai bahan perbaikan untuk mendapatkan hasil
akhir yaitu peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Tahanpan refleksi (se) dilaksanakan setelah melakukan
plan, refleksi bertujuan untuk mengetahui semua kelebihan serta kekurangan
aktivitas siswa dan aktivitas pembelajaran. Untuk tahapan refleksi, guru model
memang harus memiliki jiwa yang bersih dan dapat menerima semua saran dan
kritikan terhadap aktivitas siswa dan kegiatan pembelajaran. Refleksi harus
berjalan dengan cara berdiskusi yang saling menghargai, menghormati, kongkrit
dan tidak saling menyalahkan.
Pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran talking stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Metode talking
stick ini sangat tepat digunakan dalam pengembangan proses pembelajaran PAIKEM.
Langkah-langkah yang harus digunakan dalam penerapan metode talking
stick ntara lain :
- Pembelajaran dengan metode talking stick di awali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi tersebut. Berikan waaktu yang cukup untuk aktifitas ini.
- Guru selanjutnya meminta kepada peserta didik menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya.
- Tongkat tersebut diberikan kepada salah satu peserta didik, peserta didik yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru Kemudian seterusnya.
Ketika stick bergulir dari peserta didik lainnya, seyogyanya diiringi musik
langkah akhir dari metode talking stick adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi
terhadap materi yang telah dipelajarinya. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan peserta didik,
selanjutnya bersamama-sama peserta didik merumuskan kesimpulan,
agus supriyono (2009). Dalam pelaksanaan model talking stick di SMP Negeri 10
Muaro Jambi dilakukan dengan iringan musik yang sedang populer dan dikenal oleh
seluruh peserta didik, diharapkan dengan musik peserta didik dapat antusias dan
dapat berkonsentrasi dengan pertanyaan yang telah disediakan guru diatas meja
masing-masing.
Media
yang digunakan dalam pelakasanaan pembelajaran adalah stick drum, IT (laptop
dan infokus) yang menampilkan power point materi adaptasi, alat tulis (spidol 3
warna, papan tulis) dan speaker. Semua media itu digunakan untuk mendapatkan
kegiatan pembelajaran yang bermakna. Media
merupakan perantara pesan atau informasi dari sumber informasi ke penerima
sutarman (2013), selanjutnya sutarman menjelaskan bahwa media dapat memotivasi
peserta didik untuk belajar, memotivasi peserta didik untuk bertanya,
merangsang peserta didik untuk aktif. Melalui media peserta didik menjadi
tertarik pada pelajaran, memunculkan pertanyaan pada diri peserta didik akibat
adanya konflik kognitif.
Media
sangat berperan penting untuk kelancaran proses pembelajaran dan meningkatkan
aktivitas peserta didik. Media harus selalu ada dalam pelaksanaan pembelajaran
sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan ke peserta didik juga sebagai alat
untuk peserta didik untuk menemukan pengetahuan yang baru.
PENUTUP
Kesimpulan
Pelaksanaan pembelajaran dengan cara
lesson study dalam kegiatan ongoing bagian dari deseminasi I menggunakan model
pembelajaran talking stick dipilih untuk menghasilkan kegiatan pembelajaran
bermakna, menyenangkan dan dapat meningkatkan aktivitas peserta didik yang
berkualitas.
Media sangat berperan penting dalam
pembelajaran sebagai perantara pesan dari sumber informasi ke penerima.
Pemilihan media harus berdasarkan ketersedian dan kesesuaian dengan materi
ajar, media harus dapat meningkatkan motivasi dan antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
serta mempermudah untuk memahami materi yang diajarkan.
Saran
Pada pelaksanaan lesson
study ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki peneliti, untuk
itu disarankan untuk penelitian lanjutan oleh peneliti selanjutnya, dengan
memilih model dan media yang sesuai dengan permasalahan yang ditemukan dikelas.
DAFTAR RUJUKAN
Agus
suprijono, 2009. cooperatif learning,
yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ibrahim, 2013. Panduan pelaksanaan lesson study, Malang: Universitas Negeri
Malang.
Hasan Chalijah, 1994. Dimensi-dimensi psikologi pendidikan,
Surabaya: Al Iklas.
Sutarman dan Endang, 2013. Media pembelajaran sains SMP, Malang:
Universitas Negeri Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar