BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya visi pendidikan sains mempersiapkan
peserta didik untuk memiliki pemahaman tentang sains dan teknologi, melalui
pengembangan keterampilan berpikir, sikap dan keterampilan dalam upaya untuk
memahami dirinya sehingga dapat mengelola lingkungan, dapat mengatasi masalah
dalam lingkungannya. Dalam jangka panjang visi pendidikan sains memberikan
kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis; bersikap kreatif, tekun,
disipilin, mengikuti aturan, dapat bekerja sama, bersikap terbuka, percaya
diri, memiliki keterampilan kerja, keterampilan komunikasi dan
keteram-pilan sosial lainnya yang merupakan kemampuan dasar
bekerja ilmiah yang secara terus
menerus perlu dikembangkan untuk memberikan bekal siswa menghadapi
tantangan dalam masyarakat yang semakin kompetitif.
Falsafah yang mendasari studi tentang kemampuan dasar
bekerja ilmiah ini adalah hakekat sains yang berpandangan sains sebagai produk
dan proses. Sebagai produk sains merupakan ilmu
pengetahuan yang terstruktur
yang diperoleh melalui proses aktif, dinamis dan eksploratif dari
kegiatan induktif (Carin, 1997).
Selanjutnya pembelajaran sains didasarkan pada teori belajar konstruktivis yang
berpandangan bahwa belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan yang
dilakukan sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman yang dimiliki sebelumnya
(Ramsey, 1993). Proses belajar dilakukan melalui tahap eksplorasi dari
pengalaman yang dimilikinya melalui kegiatan ilmiah yang dimulai dengan
observasi data primer dan atau sekunder
sampai dengan kesimpulan yang
menjadi pengetahuan baru. Belajar merupakan kegiatan mengaplikasikan
pengetahuan baru pada masalah yang relevan yang
dilakukan secara induktif dan deduktif, yang merupakan kegiatan
berpikir dan bertindak yang berkem-bang secara
berkelanjutan. Hasil belajar menitik beratkan pada apa yang bisa dilakukan
setelah seseorang belajar. Untuk menghadapi tantangan masa depan, pembelajaran
sains perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar pengetahuan, belajar
berbuat sesuatu, belajar menjadi dirinya sendiri dan belajar bekerja sama.
Pemilihan
model pembelajaran yang tepat akan membawa siswa belajar sesuai dengan
cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan
optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, pengajar harus ingat
bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan
kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah
memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang
tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Melakukan kegiatan sains dengan kemampuan dasar bekerja ilmiah memberi pemahaman pengetahuan,
berpikir dasar dan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan sikap kritis, logis,
sistematis, disiplin, objektif,
terbuka dan jujur, kooperatif,
rasa ingin tahu, senang belajar sains. Di samping itu akan menumbuhkan
keterampilan kerja mela-lui kegiatan yang relevan. Kemampuan, sikap dan
keterampilan itu menumbuhkan “science disposition”, yaitu keinginan, kesadaran
dan dedikasi terhadap sains yang diperlukan dalam abad teknologi ini.
Jenis
– jenis model belajar cukup banyak, Penggunaan model pembelajaran juga
dipengaruhi oleh filsafat pendidikan, misalnya model pembelajaran yang sesuai
dengan filsafat konstruktivisme, model pembelajaran yang sesuai dengan filsafat
progesivisme, dan lain-lain. Selain itu model pembelajaran juga bergantung dari
pemakaian teknologi dalam pendidikan, misalnya penggunaan computer.
Model
pembelajaran IPA menggambarkan bagaimana pembelajaran IPA dilakukan. Dewasa ini
telah dikembangkan bermacam-macam model pembelajaran oleh para ahli. Di antara
model-model pembelajaran tersebut ada yang dirancang secara umum tetapi cocok
digunakan untuk pembelajaran IPA, namun ada yang memang dirancang khusus untuk
pembelajaran IPA. Beberapa model tersebut akan diuraikan, agar dapat dipahami
karakteristiknya masing-masing.
Beberapa
pendekatan yang sering digunakan dalam pembelajaran IPA antara lain pendekatan
inkuiri, pendekatan keterampilan proses, pendekatan S-T-S (Science-Technology-Society),
pendekatan konstruktivisme. Sedangkan beberapa metode yang sering digunakan
antara lain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, dan eksperimen.
1.2.
Topik Bahasan
Adapun topik bahasan pada makalah ini adalah :
1.2.1. Pengertian
Model Pembelajaran
1.2.2. Model pembelajaran Problem Based
Learning, Project Based Learning, Inquiry, Discovery, Cycle, dan Model
pembelajaran Kooperatif dalam IPA
1.2.3. Permasalahan
dalam Penerapan Model Pembelajaran
1.2.4. Solusi
Permasalahan dari Sisi Penulis
1.3.
Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah :
1.3.1.
Menjelaskan pengertian model
pembelajaran
1.3.2. Menjelaskan
Model pembelajaran Problem Based
Learning, Project Based Learning, Inquiry, Discovery, Cycle, dan Model
pembelajaran Kooperatif dalam IPA
1.3.3. Menjelaskan
Permasalahan dalam Penerapan Model Pembelajaran
1.2.5. Menjelaskan
Solusi Permasalahan dari Sisi Penulis
BAB
II
ISI
2.1. Pengertian Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal
istilah model pembelajaran. Joyce & Weil (2009) mendefinisikan model pembelajaran sebagai
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran dikelas atau pembelajaran tutorial untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran. dengan demikian, model pembelajaran merupakan
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model
pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan
strategi pembelajaran.
Selain memperhatikan rasional
teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki
lima unsur dasar Joyce & Weil (2009), yaitu (1) syntax, yaitu
langkah-langkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah
suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, (3) principles of
reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan,
dan merespon siswa, (4) support system, segala sarana, bahan, alat, atau
lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional
dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan
tujuan 5 yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar
yang disasar (nurturant effects).

Gambar 1. Posisi Hierarkis Model
Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Joyce
& Weil (2009)
dikelompokan kedalam empat rumpun, yaitu model interaksi sosial, model
pemrosesan informasi, model personal, dan model perilaku.
2.2.
Model-model Pembelajaran IPA
a. Model Pembelajan Problem Based
Learning
Pembelajaran berbasis masalah (Problem
Basaed Learning) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dan
bermakna bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan
masalah dan berpikir kritis dengan menggunakan metode ilmiah sehingga siswa
dapat membangun pengetahuan baru. Arends (2013:100) menyatakan bahwa inti dari
pembelajaran berbasis masalah adalah penyajian suatu permasalahan yang autentik
dan bermakna pada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Sedangkan
menurut Wina (2006:214), strategi pembelajaran berbasis masalah diartikan
sebagai pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang
dihadapi secara ilmiah. PBL juga diartikan pembelajaran yang menggunakan
masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur (ill-structured) dan bersifat
terbuka sebagai konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan
menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan membangun pengetahuan baru.
Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menampilkan
masalah, bertanya, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog (Arends, 2013).
Guru juga berperan penting dalam memberi kerangka pendukung pada siswa untuk
berinkuiri dan pertumbuhan intelektual. PBL tidak akan terjadi, kecuali guru
menciptakan lingkungan pembelajaran yang didalamnya terjadi pertukaran gagasan
dengan terbuka dan jujur.
Prinsip-prinsip PBL adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana bagi
peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Masalah nyata adalah
masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat apabila
diselesaikan.
Pemilihan atau penentuan masalah nyata ini dapat dilakukan oleh guru
maupun peserta didik yang disesuaikan kompetensi dasar tertentu. Masalah itu
bersifat terbuka, yaitu masalah yang memiliki banyak jawaban atau strategi
penyelesaian yang mendorong keingitahuan peserta didik untuk mengidentifikasi
strategi-strategi dan solusi-solusi tersebut.
Sintaks PBL
Proses pembelajaran berbasis masalah dilakukan dalam tahapan-tahapan
atau sintaks pembelajaran yang disajikan pada tabel berikut ini:
1.
Mengorientasikan
peserta didik terhaap masalah
Pada permulaan pembelajaran berbasis masalah, sama dengan semua jenis
pembelajaran, guru harus mengkomunikasikan secara jelas tujuan pembelajaran,
membentuk sikap positif terhadap pembelajaran, dan menjabarkan apa yang
diharapkan dilakukan siswa. Hal-hal yang perlu penjabaran adalah sebagai
berikut:
Ø
Tujuan
utama pembelajaran bukanlah untuk mempelajari banyak informasi baru melainkan
menyelidiki masalah yang penting dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Ø
Masalah
atau pertanyaan yang diselidiki tidak memiliki jawaban “benar” yang absolut,
dan banyak masalah kompleks memiliki banyak solusi dan kadang bertentangan.
Ø
Selama
tahap penyelidikan, siswa akan didorong untuk bertanya dan mencari informasi.
Ø
Selama
tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk mengungkapkan gagasan
mereka secara terbuka dan bebas.
(Arends, 2013: 114-115)
2.
Mengorganisasikan
peserta didik untuk belajar
Pembelajaran berbasis masalah menuntut guru mengembangkan keterampilan
kolaborasi diantara siswa dan membantu mereka menyelidiki masalah bersama-sama.
Pembelajaran tersebut juga mengharuskan membantu mereka merencanakan tugas
penyelidikan dan pelaporannya.
3.
Membimbing
penyilidikan individual maupun kelompok
Penyelidikan yang dilakukan secara mandiri, berkelompok, atau dalam tim
kecil, merupakan inti dari PBL. Meskipun setiap situasi masalah membutuhkan
sedikit teknik penyelidikan yang berbeda, kebanyakan proses dari pengumpulan
dta dan eksperimen, hipotesis dan penjelasan, dan menyediakan solusi.
4.
Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk berbagi tugas dan
merencanakn atau menyiapkan karya yang sesuai seabagai hasil pemecahan masalah
dalam bentuk laporan, video, atau model.
5.
Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir dari pembelajaran berbasis masalah melibatkan kegiatan yang
bertujuan membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses-proses pemikiran
mereka dan juga keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan.
Selama tahap ini, guru meminta siswa
mengkontruksi pemikiran mereka dan kegiatan selama berbagai tahap pembelajaran
itu.
Implementasi PBL dalam pembelajaran
|
Tahap
|
Aktivitas
Guru dan Peserta Didik
|
|
Tahap 1
Mengorientasikan
peserta didik terhadap masalah
|
Guru menjelaskan
tujuan pembelaran dan sarana atau logistik yang dibutuhkan. Guru memotivasi
peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang
dipilih atau ditentukan.
|
|
Tahap 2
Mengorganisasi
peserta didik untuk belajar
|
Guru membantu peserta
didik mendifinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah yang sudah diorientasikan pada tahap sebelumnya.
|
|
Tahap 3
Membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok
|
Guru mendorong
peserta peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan
eksperimen untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah.
|
|
Tahap 4
Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
|
Guru membantu peserta
didik untuk berbagi tugas dan merencanakan atau menyiapkan karya yang sesuai
sebagai hasil pemecahan masalah dalam bentuk laporan, video, atau model
|
|
Tahap 5
Menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru membantu peserta
didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan
masalah yang dilakukan.
|
Kelemahan
Di samping keunggulan, PBL juga memiliki kelemahan diantaranya:
a)
Manakala
siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba.
b)
Keberhasilan
strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk
mempersiapkan.
c)
Tanpa
pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
b. Model pembelajaran Project Based
Learning
Project based learning dapat diterjemahkan
menjadi pembelajaran berbasis proyek. Untuk membedakan
dengan Problem based learning
(PBL),
Project based learningdisingkat
dengan PjBL. Istilah PjBL (Project based learning)
memang sering dipertukarbalikkan dengan Problem based learning (PBL).
Seringkali keduanya juga sama-sama disingkat dengan PBL, sehingga makin rancu, meskipun
sebenarnya di antara keduanya berbeda.
Keduanya menekankan lingkungan belajar peserta didik aktif, kerja kelompok (kolaboratif), dan teknik
evaluasi otentik (authentic assessment).
Perbedaannya
terletak pada perbedaan objek.
PjBL adalah suatu model
pembelajaran yang melibatkan suatu proyek
dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh peserta didik
dapat berupa proyek mandiri atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka
waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Proyek tersebut berfokus pada pemecahan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan peserta didik. Pembelajaran
berbasis proyek merupakan bagian dari model pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik student-centered).
dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh peserta didik
dapat berupa proyek mandiri atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka
waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Proyek tersebut berfokus pada pemecahan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan peserta didik. Pembelajaran
berbasis proyek merupakan bagian dari model pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik student-centered).
Terdapat beberapa macam
rancangan tahapan atau sintaks PjBL.
Tahapan PjBL yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational
Foundation (2005).
Tahapan PjBL yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational
Foundation (2005).
a.
Start With the Essential Question (Ajukan
pertanyaan). Pembelajaran dimulai
dengan pertanyaan, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam
melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan
disusun
dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah
investigasi mendalam. Guru berusaha
agar
topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
b.
Design a Plan for the Project(Rancang
rencana proyek). Secara kolaboratif,
guru
dan peserta didik merencanakan aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab
pertanyaan penting, dengan cara
mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses
untuk membantu penyelesaian proyek.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta didik. Dengan demikian
peserta didik diharapkan akan merasa
“memiliki”
atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat
mendukung dalam menjawab pertanyaan
penting,
dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin,
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
c.
Create a Schedule (Susun
jadual). Guru dan peserta didik secara
kolaboratif
menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek.
d.
Monitor the Students and the
Progress of the Project (Pantau peserta didik dan kemajuan
proyek). Guru bertanggungjawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama
menyelesaikan proyek. Pemantauan
dilakukan
dengan cara memfasilitasi
peserta didik pada setiap proses.
Dengan
kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses
pemantauan, dibuat sebuah rubrik
yang
dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.
e.
Assess the Outcome (Penilaian
hasil). Penilaian dilakukan untuk
membantu
guru dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi
kemajuan masing-masing peserta didik,
memberi
umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam
menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f.
Evaluation the Experience (Evaluasi
pengalaman). Pada akhir proses
pembelajaran,
guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang
sudah dijalankan. Proses refleksi
dilakukan
baik secara individu maupun kelompok. Pada
tahap ini peserta didik
diminta untuk mengungkapkan perasaan
dan pengalamannya selama
menyelesaikan proyek. Guru dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran,
sehingga
pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry)
untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
c. Model pembelajaran Inquiry
Kata inkuiri berasal dari
bahasa inggris, yaitu ‘to inquire’ yang
berarti bertanya atau menyelidiki. Pertanyaan
merupakan inti dari pembelajaran berbasisi
inkuiri. Pertanyaan dapat menuntun untuk melakukan penyelidikan sebagai usaha peserta didik dalam
memahami materi pelajaran. Ada beberapa
penjelasan mengenai pembelajaran inkuiri telah dikemukakan oleh beberapa ahli.
Joyce dan Weil (2000)
mengemukakan bahwa inti dari pembelajaran inkuiri
adalah melibatkan peserta didik dalam masalah penyelidikan nyata dengan menghadapkan mereka dengan cara
penyelidikan (investigasi), membantu
mereka mengidentifikasi masalah konseptual atau metodologis dalam wilayah investigasi, dan meminta
mereka merancang cara mengatasi masalah.
Melalui inkuiri peserta didik belajar menjadi seorang ilmuwan dalam menyusun pengetahuan. Selain
itu, peserta didik belajar menghargai ilmu
dan mengetahui keterbatasan pengetahuan dan ketergantungan satu dengan yang lainnya.
Model inkuiri
didefinisikan oleh Piaget (Sund & Trowbridge, 1973) sebagai belajar
mengajar yang mempersiapkan situasi bagi siswa untuk melaksanakan eksperimen.
Dalam pengertian lebih luas, para siswa ingin mengetahui apa yang sedang
terjadi, melakukan sesuatu, menggunakan simbol, menemukan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan siswa, menghubungkan temuan-temuan, dan membandingkannya.
Sementara itu Trowbridge (1990) memperkenalkan model inkuiri sebagai suatu
proses pendefinisian dan penyelidikan masalah, formulasi hipotesis,
merencanakan eksperimen, mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Lebih jauh
ditambahkannya bahwa esensi dari pembelajaran inkuiri adalah untuk mengelola
kondisi atau lingkungan belajar siswa dengan bimbingan yang cukup dalam
menemukan prinsip dan konsep ilmiah.
Berdasarkan semua definisi
tersebut, dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu proses bagi siswa
untuk memecahkan masalah, merencanakan dan melakukan eksperimen, mengumpulkan
dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam pembelajaran
berbasis inkuiri, siswa terlibat sacara mental dan secara fisik untuk
memecahkan masalah yang diberikan guru. Dengan kata lain para siswa akan
menjadi terbiasa berperilaku sebagai saintis (objektif, jujur, kreatif, dan
menghargai yang lain).
Llewellyn (Siti Zubaida
dkk, 2013) mengelompokkan inkuiri berdasarkan tingkat dominasi peran guru atau
peserta didik menjadi 4 tingkatan yaitu:
1
Inkuiri demonstrasi atau discrepant
event, yaitu pembelajaran yang diawali dengan kegiatan demontrasi yang
dilakukan guru untuk mengarahkan atau menarik perhatian peserta didik. Fenomena
yang didemonstrasikan dirancang bertentangan dengan penalaran sehingga
menimbulkan konflik kognitif pada peserta didik. Dengan demikian inkuiri
demonstrasi dapat menimbulkan rasa penasaran sehingga dapat menimbulkan
pertanyaan dari peserta didik.
2
Inkuiri terstruktur yaitu pembelajaran
yang melibatkan peserta didik dalam aktivitas hands-on atau praktikum
laboratorium, mengumpulkan dan mengorganisasi data, dan menarik kesimpulan.
Pada pembelajaran ini langkah penyelidikan disiapkan guru atau berdasarkan LKS
dan buku teks.
3
Inkuiri terbimbing yaitu pembelajaran
yang diawali dengan pengajuan pertanyaan atau masalah yang akan diselidiki oleh
guru dan menunjukkan materi atau bahan yang akan digunakan. Selanjutnya peserta
didik merancang dan melaksanakan prosedur penyelidikan. Peserta didik kemudian
menarik kesimpulan dan menyusun menjelasan dari data yang dikumpulkan
4
Inkuiri penuh (full inquiry)
yaitu pembelajaran yang memberi kesempatan pada peserta didk untuk mengajukan
pertanyaan mengenai suatu topik atau fenomena. Selanjutnya peserta didik
merancang kegiatan penyelidikan, mengidentifikasi variabel, melaksanakan penyelidikan untuk menjawab pertanyaan yang
mereka ajukan sebelumnya. Pada akhir inkuiri penuh, peserta didik menarik
kesimpulan dan mengajukan penjelasan didukung oleh data yang dikumpulkan serta
mengomunikasikan temuan penyelidikan. Pada pembelajaran ini dominasi terletak
pada siswa. Topic permasalahan diajukan oleh siswa sepenuhnya.
Tahapan/
Sintak Pembelajaran Inkuiri
Tahapan pembelajaran (sintaks) merupakan ciri khusus dari
model pembelajaran. Tahapan pembelajaran merupakan urutan langkah yang
akan Dilakukan melalui kegiatan
pembelajaran yang direncanakan oleh guru. Menurut Llewellyn (Siti Zubaida
dkk, 2013) tahapan
pembelajaran inkuiri secara umum adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi dan penetapan ruang
lingkup masalah
Tahap ini adalah tahap pengembangan
konsep, yaitu menghubungkan fenomena dengan apa yang sudah diketahui peserta didik dan
memotivasinya untuk mengajukan pertanyaan sendiri untuk fenomena tersebut. Pada langkah ini guru harus merangsang
dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.langkah orientasi
merupakan langkah yang sangat penting karena keberhasilan pembelajaran inkuiri
sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan
kemampuannya dalam memecahkan masalah.
2. Merencanakan dan memprediksi hasil
Setelah peserta didik
mengeksplorasi ide-ide melalui pengalaman bereksperimen, peserta didik
merumuskan pertanyaan dan membuat rencana untuk menyelidiki pertanyaan yang
diajukan. Merumuskan
masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung
teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
berpikir memecahkan teka-teki itu. Selanjutnya
peserta didik juga memprediksi dan memikirkan apa yang akan dihasilkan.Hal ini
membutuhkan waktu dan latihan sebelum peserta didik belajar bagaimana
merumuskan pertanyaan. Pada tahap ini peserta didik juga mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban
sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara
hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru
untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada setiap peserta didik adalah
dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan
kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
3. Penyelidikan
untuk pengumpulan data
Pada tahap ini peserta didik terlibat dalam
penyelidikan dan mengumpulkan data. Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan
4. Interpretasi data dan mengembangkan
kesimpulan
Pada tahap ini peserta
didik menyusun argumen untuk mendukung data dan menguji hipotesis. Peserta didik
membuat hubungan generalisasi untuk mengembangkan kesimpulan. Peserta didik
menganalisis data untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat menjawab masalah
yang disajikan. Merumuskan
kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan
hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebiknya guru
membimbing dan menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
5.
Melakukan
refleksi
Pada tahap refleksi,
peserta didik dapat mengulang fenomena dan merencanakan penyelidikan lebih
lanjut. Sebagai hasil refleksi mungkin muncul pertanyaan baru untuk proses
penyelidikan berikutnya.
d. Model pembelajaran Discovery
Pembelajaran dengan discovery
learning pertama kali dikemukakan
oleh
Jerome Bruner pada tahun 1960-an. Bruner menyatakan bahwa dalam pembelajaran terjadi suatu proses
penemuan (discovery), refleksi, berpikir, melakukan
eksperimen, dan eksplorasi. Seiring dengan pemikiran itu, Bruner menyadari bahwa tujuan pendidikan
IPA adalah perkembangan intelektual
sehingga
dalam IPA harus membantu perkembangan keterampilan pemecahan masalah melalui penemuan.
Balim (2014:2)
“Discovery learning adalah metode yang mendorong siswa untuk sampai pada suatu
kesimpulan berdasarkan kegiatan dan pengamatan mereka sendiri”. “discovery adalah menemukan konsep melalui serangkain
data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan dan percobaan” Sani
(2013:97).
Model discovery learning dapat didefinisikan
sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila siswa tidak disajikan dengan
pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri,
memahami konsep, arti, dan hubungan,
melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Dalam
discovery learning siswa dituntut untuk menemukan hal yang baru, proses dalam
menemukan hal yang baru itu di perlukan sebuah kreatifitas, sehingga diharapkan
model discovery learning dengan sintaks yang ada dapat meningkatkan
keterampilan berpikir kreatif siswa.
Langkah-langkah
pembelajaran dengan discovery learning tidak terikat pada prosedur tertentu tetapi
bersumber pada beberapa literatur. Berikut
beberapa
langkah yang sering digunakan sebagai prosedur discovery learning.
(1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian
Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap
ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu
yang
menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi jawaban agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri.
Guru
dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku,
dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah
pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan
kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam
mengeksplorasi materi
ajar. Dalam hal ini, Bruner memberikan
stimulasi dengan menggunakan
teknik ertanya
yaitu dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan yang mendorong peserta didik melakukan eksplorasi. Dengan demikian seorang guru harus
menguasai teknik-teknik bertanya
atau
stimulus kepada peserta didik agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat
tercapai.
(2) Problem
statement (Identifikasi Masalah)
Pada langkah ini guru
memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan
masalah) (Syah, 2004:244). Berdasarkan permasalahan yang dipilih, peserta didik
merumuskan pertanyaan, atau hipotesis,
yakni
pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
(3) Data collection (Pengumpulan
Data)
Ketika eksplorasi
berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para
peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis (Syah,
2004:244). Tahap ini berfungsi
untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian, peserta didik diberi kesempatan
untuk mengumpulkan (collection)
berbagai
informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan
sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan
yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah
dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
(4) Data processing (Pengolahan
Data)
Menurut Syah
(2004:244), pengolahan data merupakan kegiatan mengolah
data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi,
dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
Semua
informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung
dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data
processing disebut juga dengan
pengkodean/kategorisasi
yang berfungsi sebagai pembentukan konsep
dan
generalisasi. Berdasarkan generalisasi tersebut peserta didik akan
mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian masalah yang
perlu mendapat pembuktian secara logis
(5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta
didik melakukan penyelidikan untuk
membuktikan
benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif,
dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification,
menurut Bruner, bertujuan agar proses
belajar
akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk menemukan suatu konsep, teori,
aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
(6) Generalization (Menarik
Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap
generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk
semua kejadian atau masalah yang sama (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi,
peserta didik merumuskan prinsip-prinsip
yang
mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya
penguasaan
pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman
seseorang, serta pentingnya proses
pengaturan
dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.
e. Model pembelajaran Learning Cycle
Siklus belajar adalah
pembelajaran dengan tahapan yang diatur
sedemikian
rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensikompetensi yang harus dicapai dengan ikut serta berperan
aktif. Siklus belajar
menekankan pada proses penyelidikan peserta didik untuk menyelidiki pengetahuan ilmiah melalui
keterampilan proses untuk mendapatkan
pengetahuan
atau pengalaman belajar berdasarkan teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme tersebut
mengarahkan agar peserta didik menemukan
sendiri
informasi atau pengetahuan yang diharapkan. Hal tersebut bertujuan agar peserta didik benar-benar
memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
bekerja memecahkan masalah, dan menemukan ide-ide baru.
Berikut ini dijelaskan
salah satu variasi siklus belajar yang dikenal adalah
model siklus belajar 5E (The 5E Learning Cycle). Model ini meliputi kegiatan Engagement,
Exploration, Explaination, Elaboration, Evaluation (Bybee, 1997).
a.
Tahap pertama (engagement)
bertujuan mempersiapkan diri peserta didik
agar
untuk menempuh tahap berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka
serta untuk mengetahui kemungkinan
adanya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Pada
tahap engagement ini diupayakan dapat dibangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity)
peserta didik tentang topik yang akan
dipelajari. Pada
tahap ini pula peserta didik diarahkan untuk membuat perkiraan atau prediksi tentang fenomena yang
akan dipelajari dan dibuktikan pada
tahap
eksplorasi.
b.
Pada tahap kedua (exploration),
peserta didik diberi kesempatan untuk
bekerja
sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menguji perkiraan atau prediksi, melakukan
pengamatan, mencatat hasil serta ide-ide
melalui
kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
c.
Pada tahap ketiga (explanation),
peserta didik difasilitasi oleh guru untuk
menjelaskan
konsep dengan kalimat mereka sendiri, menunjukkan bukti atas penjelasan mereka melalui
diskusi. Pada tahap ini peserta didik
diharapkan
menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
d.
Pada tahap keempat (elaboration/extention),
peserta didik diarahkan untuk
menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti problem
solving dan praktikum lanjutan.
e.
Pada tahap akhir atau kelima (evaluation),
dilakukan evaluasi terhadap keefektifan
tahap-tahap sebelumnya dan evaluasi terhadap hasil belajar atau kompetensi peserta didik
melalui problem solving pada konteks
baru,
atau mendorong peserta didik melakukan penyelidikan lebih lanjut.
f. Model pembelajaran Kooperatif
Model Group
investigation seringkali disebut sebagai metode pembelajaran
kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini memadukan
beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pandangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok belajar
kooperatif.
Berdasarkan
pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model group investigation memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif
dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu
topik melalui investigasi. Democratic
teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai
demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan,
menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik
(Budimansyah, 2007: 7).
Group investigation
adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan
belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan
ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah
kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.
Eggen
& Kauchak (dalam Maimunah, 2005: 21) mengemukakan Group investigation adalah strategi belajar kooperatif yang
menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu
topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode GI mempunyai
fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
Tahap-tahap
pembelajaran Group Investigasi
Pelaksanaan
langkah-langkah pembelajaran di atas tentunya harus berdasarkan prinsip
pengelolaan atau reaksi dari metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Dimana di dalam
kelas yang menerapakan model GI, pengajar lebih berperan sebagai konselor,
konsultan, dan pemberi kritik yang bersahabat. Dalam kerangka ini pengajar
seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok menjadi tiga tahap:
1. Tahap
pemecahan masalah,
2. Tahap
pengelolaan kelas,
3. Tahap
pemaknaan secara perseorangan.
Tahap
pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, apa yang menjadi
hakikat masalah, dan apa yang menjadi fokus masalah. Tahap pengelolaan kelas
berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, informasi apa yang saja yang
diperlukan, bagaimana mengorganisasikan kelompok untuk memperoleh informasi
itu. Sedangkan tahap pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian
bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya, dan apa yang
membedakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam
Winataputra, 2001: 37).
2.3. Permasalahan
dalam Penerapan Model Pembelajaran
Alfian (2015) menyatakan Dalam proses
pembelajaran PBL terdapat
kendala kendala selama proses pembelajaran
berlangsung antara lain :
(1)
kurang lengkapnya alat dan bahan di
laboratorium sekolah yang
digunakan untuk praktikum,
(2)
Jumlah alat dan bahan yang tidak mencukupi untuk beberapa
kelompok siswa,
(3)
tidak tersedianya LCD disekolah yang
digunakan peneliti,
(4)
masih adanya siswa yang sulit diatur
sehingga mengganggu siswa yang lain, dan
(5) laboratorium
yang jarang dipakai sehingga banyak
alat-alat praktikum yang tidak
berfungsi dengan baik.
Farika (2015) mengusulkan Sebaiknya penyusunan
jadwal aktifitas dalam penyelesaian
proyek sangat diperhatikan karena
pelaksanaan
pembelajaran project based learning memerlukan banyak waktu.
Fatur
(2012) menyatakan Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan guided discovery dibutuhkan waktu yang cukup lama,
sehingga guru harus dapat mengelola waktu
sesuai dengan perencanaan. Anggota
kelompok saat praktikum lebih
baik jangan lebih dari lima orang agar
pembagian
tugas dapat berjalan dengan baik.
Anggota
kelompok sebaiknya dibagi dengan
memperhatikan kemampuan siswa.
Kendala & Tantangan Inkuiri dalam Pembelajaran
IPA
Walaupun penguasaan
konsep subyek penelitian dalam pembelajaran IPA berbasis inkuiri menunjukkan
tidak lebih rendah daripada penguasaan konsep subyek penelitian yang secara
khusus mempelajari konsep, tetapi perolehannya tidak begitu menggembirakan.
Hasil pencapaiannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 60-70 persen. Tampaknya
tidak cukup mempelajari IPA dengan menggunakan scientific inquiry saja, tetap diperlukan pemantapan penguasaan
konsepnya. Bagaimana siswa belajar IPA
dengan senang hati (enjoy), tetapi
perolehan konsepnya tetap tinggi. Hasil penelitian Wahyuli (2004) menunjukkan
bahwa siswa yang terbiasa belajar dari hasil ulangan yang dikembalikan sama-
sama meningkat hasil belajarnya melalui tes ulang (retest), selain belajar Fisika dengan metode penemuan perolehannya
tetap tinggi (bahkan meningkat, bukan menurun).
Dari beberapa hasil
penelitian sementara diperkirakan bahwa inkuri tidak cukup hanya digunakan
sebagai metode atau pendekatan dalam pembelajaran IPA, bahkan tidak juga cukup
inkuiri digunakan sebagai model pembelajaran. Sudah waktunya inkuiri
dikembangkan serta diterapkan dalam pembelajaran IPA sebagai kemampuan yang
harus diukur atau dihitung. Kemampuan (ability)
sendiri menghendaki berinteraksinya pengetahuan dengan keterampilan secara
berulang-ulang sehingga bisa menjadi milik orang-orang (atau siswa) yang
mengalaminya (Haladyna, 1997). Tidak cukup pembelajaran IPA hanya mencapai achievement. Achievement hanya bertahan sebentar dan dapat menurun kembali,
sementara ability dapat bertahan lama
dan cenderung menetap. Dengan kata lain, belajar konsep IPA saja atau belajar
keterampilan (proses sains, berpikir kritis) saja tidak memecahkan persoalan.
Mengalami pembelajaran IPA yang memungkinkan siswa belajar aktif membangun
konsep dan keterampilan sedemikian rupa terinternalisasi hingga menjadi
miliknya dan menjadi kebiasaannya, merupakan target yang perlu dituju dan
dicapai oleh para pendidik, termasuk pendidik di LPTK yang menyiapkan calon
gurunya.
Persoalan lain yang
dihadapi adalah bagaimana memotivasi calon guru agar tetap mau menerapkan
perolehan pengetahuan (konsep ilmiah, prinsip) dan kemampuan (keterampilan
dasar mengajar, bekal pengalaman berinkuiri, berproses) di lapangan, tidak
terpengaruh oleh guru-guru di lapangan. Temuan Suciati (2005) menunjukkan bahwa
para praktikan cenderung gagap lapangan ketika berkesempatan mengikuti praktek
pengalaman lapangan (PPL) di sekolah.
Kekurangan model pembelajaran Group Investigasi
1.
Pembelajaran dengan model kooperatif
tipe GI hanya sesuai untuk diterapkan di kelas tinggi, hal ini disebabkan
karena tipe GI memerlukan tingkatan kognitif yang lebih tinggi.
2.
Kontribusi dari siswa berprestasi rendah
menjadi kurang dan siswa yang memiliki prestasi tinggi akan mengarah pada
kekecewaan, hal ini disebabkan oleh peran anggota kelompok yang pandai lebih
dominan.
3.
Adanya pertentangan antar kelompok yang
memiliki nilai yang lebih tinggi dengan kelompok yang memiliki nilai rendah.
4.
Untuk menyelesaikan materi pelajaran
dengan pembelajaran kooperatif akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan
pembelajaran yang konvensional, bahkan dapat menyebabkan materi tidak dapat
disesuaikan dengan kurikulum yang ada apabila guru belum berpengalaman.
5.
Guru membutuhkan persiapan yang matang
dan pengalaman yang lama untuk dapat menerapkan belajar kooperatif tipe GI
dengan baik.
2.4.Solusi
Permasalah dari Sisi Penulis
Solusi permasalahan
model pemberlajaran Group Investigation
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi
kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan
karakteristik yang heterogen, Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas
kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu.
Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang
mendalam atas topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan
mempresentasikan laporannya di depan kelas.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota
kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan,
siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar
kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota
untuk mengerjakan lembar kerja. Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber
mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan
mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
Guru menyediakan sumber dan
fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa
mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika
siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.
Solusi
dalam permasalahan inquiry
Mengajar sains melalui inkuiri memerlukan suatu metode
yang melibatkan siswa dalam pembelajaran. Jadi guru sains bertindak sebagai
agen perubahan, membantu pengembangan perubahan dalam mengajarkan sains,
menyiapkan peralatan dan bahan, dukungan moral, motivasi, dan keterlibatan
langsung. Implikasi dari inkuiri dalam pembelajaran sains menuntut guru untuk
menyiapkan kegiatan yang memungkinkan siswa mengidentifikasi dan mereviu
informasi sains sekunder secara kritis. Seluruh kegiatan seyogianya
dilaksanakan di dalam kelas yang membantu guru dan para siswa di dalam
masyarakat belajar. Guru seyogianya mengidentifikasi strategi terbaik dalam
mengajarkan topik-topik tertentu dengan keter-libatan penuh siswa untuk
memahami konsep dan prinsip ilmiah. Mengajar sains melalui inkuiri memberikan
peluang kepada guru sains untuk mengembangkan kemampuan siswa dan
memperkaya pemahaman sains siswa
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Model
pembelajaran Merupakan
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran dikelas atau pembelajaran tutorial untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran. Model pembelajaran
memiliki lima unsur dasar,
yaitu : syntax, social system,
principles of reaction,
support
system, instructional dan nurturant effect.
Ada
banyak model-model didalam pembelajaran, sehingga dalam menerapkan model
pembelajaran harus merujuk pada karakteristik kompetensi dan materi yang ingin
dicapai oleh pengajar. Penerapan model seharusnya juga mempertimbangkan
karakteristik anak dan fasilitas yang ada untuk mendukung keterlaksanaan model
yang telah dirancang. Dalam penyusunan model pembelajaran harus
mempertimbangkan lima unsur dasar dalam penerapan model pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Alfian, I.F, Linuwih. S,
Sugiyanto. 2015. Efektivitas
Pembelajaran Model Pbl Menggunakan
Audio Visual
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mapel Ipa Kelas
VII. Unnes Physics Education Journal, (Online), 2015, (1), (http://journal. unnes. ac. id/ sju/ index. php/upej), diakses 25 Maret 2016.
Arends,
Richard I. 2013. Belajar untuk Mengajar
Learning to Teach, Edisi 9 Buku 2 (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Balım,
A., G. (2009). The Effects of Discovery
Learning on Students’ Success and Inquiry Learning Skills. Egitim
Arastirmalari-Eurasian Journal of Educational Research, 35, 1-20.
Bybee, R.W. 1989. Science
and Technology Education for the
Elementary Year: Framework for Curriculum and Instruction. Washington, D.C:
The Nationan Center for Improving Instruction.
Farika. M.A, Sofyan. A.
2015. Pengembangan Lks Dengan Pendekatan Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Siswa Smp. Unnes Physics Education Journal, (Online),
2015, (1), (http://journal. unnes. ac. Id /sju /index. php/ upej), diakses 25 Maret 2016.
Fathur.
R, Susanto.H,
Ellianawati. 2012. Penerapan
Model Discovery Terbimbing Pada
Pembelajaran Fisika
Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kreatif.
Unnes Physics Education Journal, (Online),
2012, (1), (http://journal. unnes. ac. Id /sju /index. php/ upej), diakses 1 April 2016.
Rusman. 2011. Model-model
pembelaharan mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Sani,
Ridwan A. 2014. Pembelajaran Saintifik
Untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Wina.S . 2014.
Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenamedia Group.
